Sabtu, 13 Februari 2016

LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI PENGUKURAN SUHU UDARA DAN KELEMBABAN DI ASPAL, TANAH TERBUKA DAN TANAH BERVEGETASI

LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI
PENGUKURAN SUHU UDARA DAN KELEMBABAN DI ASPAL, TANAH TERBUKA DAN TANAH BERVEGETASI


Dosen pengampu :
Yulfita farni

Disusun Oleh:
Meida Pane (D1B014025)


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015



BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Dalam kehidupan di bumi ini kelembaban udara merupakan salah satu unsur penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembaban udara juga  menentukan bagaimana mahluk hidup tersebut dapat beradaptasi dengan kelembaban yang ada di lingkungannya. Kelembaban udara biasanya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan perkembangan  tumbuhan budi daya.
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volum. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air.
Suhu (temperatur) adalah ukuran dari suatu benda yang cenderung melepaskan panas.  Pengaruh suhu terhadap makhluk hidup sangat besar sehingga pertumbuhannya sangat bergantung padanya, terutama dalam kegiataanya. Contoh, tanaman memerlukan suhu tertentu, artinya tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik bila syarat-syaratnya tidak dipenuhi. Pengaruhnya pada proses pematangan buah adalah makin tinggi suhu makin cepat matang. Dengan suhu yang tinggi, benih akan melakukan metabolisme lebih cepat. Benih yang dibiarkan atau ditanam pada dataran atau tanah tinggi maka daya kecambahnya akan turun. Jadi, pada tanaman juga ada suhu maksimum dan suhu optimum yang diperlukannya. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi dimana suatu tanaman masih dapat tumbuh. Suhu minimum adalah suhu terendah dimana tanaman masih dapat hidup, sedangkan suhu optimum adalah suhu yang terbaik yang dibutuhkan tanaman dimana proses pertumbuhannya dapat berjalan lancar (Kartasapoetra, 2004)
Untuk mengetahui bagaimana perbedaan kelembaban relative udara pada tempat/lokasi yang berbeda serta untuk melatih para mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban relatif udara, maka dilakukanlah percobaan ini.

1.2    Prinsip Teori
Kelembaban merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap aktifitas organisme di alam. Kelembaban merupakan jumlah uap air di udara, sedangkan kelembaban mutlak adalah sejumlah uap air dalam udara yang dinyatakan sebagai berat per satuan udara (misalnya gram per kilogram udara). Kelembaban merupakan salah satu faktor ekologis yang mempengaruhi aktifitas organisme seperti penyebaran, keragaman harian, keragaman vertical dan horizontal. (Umar,2010 dalam Arnikho,2013)
Kelembaban adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Semua uap air dalam udara itu berasal dari penguapan sedangkan penguapan itu sendiri adalah perubahan pase cair menjadi fase uap air yang ringan dan akan naik ke atmosfir . Dalam atmosfir senantiasa terdapat uap air dan kadar uap air ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur  udara setempat. Meskipun uap air hanya merupakan sebagian kecil saja dari semua atmosfir kira-kira 2% dari masa seluruhnya tetapi merupakan komponen udara yang penting dari segi cuaca dan iklim. Data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah kelembaban relative (RH) (Mustanil, 2011 dalam Rizky, 2014)


Menurut Sianturi 2012, Dalam kelembaban dikenal beberapa istilah, seperti:
1.      Kelembaban mutlak, yaitu massa uap air yang berada dalam satu satuan udara, yang dinyatakan dalam gram/m3.
2.      Kelembaban spesifik, yaitu perbandingan massa uap air di udara dengan satuan massa udara yang dinyatakan dalam gram/kilogram.
3.      Kelembaban relative, yaitu perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung udara pada temperature tertentu, yang dinyatakan dalam %.
Suhu (temperatur) adalah ukuran dari suatu benda yang cenderung melepaskan panas. Energi radiasi dalam atmosfir diabsorbsi oleh molekul gas, partikel padat dan zat cair, sehingga temperatur suhu benda menjadi naik. Bila terjadi perbedaan suhu dalam lingkungan maka energi akan mengalir sebagai panas dari daerah yang panas ke yang lebih dingin (Umar, 2013).
faktor-faktor yang mempengaruhi suhu juga sangat erat dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kelembapan udara dalam berbagai hubungan yaitu :
1.      Pengaruh tanah dan air, semakin banyak jumlah uap air baik diudara maupun  didalam tanah, maka kelembapan akan semakin tinggi.
2.       Ada atau tidaknya vegetasi, semakin rapatnya jarak antara vegetasi maka kelembapan makin tinggi, namun suhu akan menjadi sangat rendah.
3.      Pengaruh ketinggian tempat, semakin tingginya suatu tempat maka suhu ditempat tersebut akan semakin rendah dan kelembapan udara semakin tinggi.
(Lakitan,2002 dalam Arnikho 2012
4.      Tabel kelembaban relative (RH) (%) dari suhu bola kering dan bola basah
Suhu bola kering (0C)
Selisih suhu bola kering dan bola basah (0C)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
40
100
94
88
82
76
71
66
61
56
52
47
43
39
39
100
94
88
81
76
71
65
60
55
51
46
42
38
38
100
94
88
81
76
70
65
60
54
50
45
40
37
37
100
94
88
81
75
70
64
59
54
49
44
39
36
36
100
93
87
80
75
69
64
59
53
48
43
38
35
35
100
93
87
80
74
69
63
58
52
47
42
37
33
34
100
93
87
80
74
68
62
57
51
46
41
36
32
33
100
93
86
80
73
67
62
56
50
45
40
35
31
32
100
93
86
79
73
67
61
55
50
44
39
34
30
31
100
93
86
79
73
66
60
54
49
43
38
33
29
30
100
92
85
79
72
65
59
53
48
42
37
32
27
29
100
92
85
78
71
65
59
52
47
41
36
31
25
28
100
92
85
78
71
64
58
51
45
40
34
29
23
27
100
92
84
77
70
63
57
50
44
38
32
27
22
26
100
92
84
77
70
63
56
49
43
37
31
26
20
25
100
92
84
76
69
62
55
48
42
36
30
24
18
24
100
91
83
76
68
61
54
47
40
34
28
22
16
23
100
90
83
75
67
60
53
45
38
32
26
20
14
22
100
90
82
74
67
59
52
44
37
31
24
18
12
21
100
90
82
73
66
58
50
43
36
29
22
16
9
20
100
90
82
73
65
57
49
41
34
27
20
13
6
19
100
90
81
72
64
55
47
39
32
24
17
10

18
100
90
81
71
63
54
45
37
30
21
14
7

17
100
90
80
71
62
53
44
36
28
19
12


16
100
89
80
70
60
51
42
34
25
17
9


15
100
89
80
70
59
49
40
31
23
14
6





1.3 Tujuan Praktikum
            Tujuan yang akan dicapai pada percobaan ini adalah :
  1. Untuk mengetahui perbedaan kelembaban relatif udara pada tempat / lokasi yang berbeda dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
  2. Untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam membaca dan mengoperasikan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban relatif udara.



BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1     Waktu dan Tempat
          Praktikum dengan judul “Pengukuran Suhu Udara dan Kelembaban di Aspal, Tanah Terbuka dan Tanah Bervegetasi ” dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai pada tanggal 21 Oktober 2015 di lapangan terbuka, Dirusunawa dan Aspal Universitas Jambi.

2.2         Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1.        Termometer Bola Basah Dan Termometer Bola Kering
2.      Tiang penyangga (Bambu)
3.      Tali rafia
4.      Payung
5.        Kapas
6.      Tabel RH untuk menghitung kelembapan relatif udara diberbagai tempat
7.      Air Mineral
8.      Alat Tullis

1.3  Prosedur Percobaan
Prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini adalah:
a.        Siapkan alat dan bahan yang akan dipakai
  1. Membuat penyangga berbentuk +. sebagai tempat gantungan thermometer
  2. Diikat payung keatas tiang penyangga dan diikat menggunakan benang atau tali rafia.
d.      Diikat termometer bola kering dan termometer bola basah pada bagian kiri dan kanan penyangga sepanjang 1.5 meter.
e.       Kemudian bungkus termometer bola basah dengan kapas dan diikat kemudian ditetesi dengan Air Mineral.
  1. Letakan tongkat yang telah siap dengan thermometer di beberapa tempat permukaan yang ingin diketahui suhu dan kelembapann udaranya, yaitu , lapangan terbuka , Aspal  dan Rusunawa. Dengan waktu 10 menit, dengan 3x percobaan pada setiap permukaan.
  2. catat  hasil perubahan dalam setiap 1 x 10 menit pada setiap tempat dengan 3 kali percobaan, setiap 1 kali pengulangan thermometer bola basah di tetesi tengan air mineral.
  3. Catat  perubahan suhu yang terjadi pada thermometer kering dan thermometer basah pada tiap vegetasi yang berbeda.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1              Hasil
Berikut merupakan data hasil praktikum “Penetapan Suhu Dan Kelembaban di Beberapa Permukaan Bervegetasi”dengan menggunakan termometer bola basah dan termometer bola kering :
v  Pengamatan Suhu dan Kelembaban di lapangan terbuka
Waktu
Bola kering (0C)
Bola Basah
 (0C)
Selisih
(BK-BB)
Kelembaban (%)
10 menit
33
27
6
62
20 menit
33
26,5
7
56
30 menit
33
27
6
62
Rata-Rata
33
26,83
6
60

v  Pengamatan Suhu dan Kelembaban di lahan bervegetasi (Dirusunawa)
Waktu
Bola kering (0C)
Bola Basah
(0C)
Selisih
(BK-BB)
Kelembaban (%)
10 menit
33,5
26
7,5
53
20 menit
33
26
7
56
30 menit
33
26,5
6,5
59
Rata - Rata
33,17
26,17
7
56


v  Pengamatan Suhu dan Kelembaban di Aspal
Waktu
Bola Kering (0C)
Bola Basah
(0C)
Selisih
(BK-BB)
Kelembaban (%)
10 menit
34
27
7
57
20 menit
34
26
8
51
30 menit
34
25
9
46
Rata-Rata
34
26
8
51,3

2.2 Pembahasan
Suhu udara adalah derajat panas dari aktifitas molekul dalam atmosfer. Alat untuk mengukur suhu temperature atau derajat panas disebut thermometer. Dimana pada praktikum ini menggunakan thermometer bola kering dan thermometer bola basah.
pengukuran suhu suatu benda dan pengukuran diberbagai tempat pada dasarnya merupakan pengukuran yang tidak langsung. Pada proses pengukuran, umumnya terjadi perpindahan panas dari tempat yang akan diukur yang terbaca pada alat pengukur suhu adalah suhu setelah terjadi kesetaraan.
Untuk menentukan kelembaban relatif % dari suhu bola kering dan suhu bola basah adalah dengan melihat tabel pada penuntun praktikum,dengan rumus  :

%Kelembaban Relatif = Suhu Bola Kering – Suhu Bola Basah

*      Pengamatan Suhu dan Kelembaban pada Tanah Lapang
Suhu Dilapangan Terbuka
Pengulangan Pertama
Pengulangan Kedua
Pengulangan Ketiga 
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 33 – 27
                     = 6
Kelembaban = 62  %
Kelembaban = TBK –T BB
                    = 33,5  – 26,5
                     = 5
Kelembaban =56  %
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 33 – 27
                     = 6
Kelembaban = 62 %

Suhu Dirusunawa
Pengulangan Pertama
Pengulangan Kedua
Pengulangan Ketiga 
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 33,5 – 27
                     = 6,5
Kelembaban = 53  %
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 33 – 26
                     = 7
Kelembaban =56  %
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 33 – 26,5
                     = 6,5
Kelembaban = 59  %


Suhu  di Aspal
Pengulangan Pertama
Pengulangan Kedua
Pengulangan Ketiga 
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 34 – 27
                     = 7
Kelembaban = 57  %
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 34 – 26
                     = 8
Kelembaban = 51  %
Kelembaban = TBK –T BB
                     = 34 – 25
                     = 9
Kelembaban = 46  %

Dari data hasil pengamatan bahwa data yang diperoleh dari termometer bola kering (TBK) dan termometer  bola basah (TBB) berbeda. Dengan  3 kali ulangan  dan dengan selang waktu 10 menit. Pengukuran dilakukan di atas permukaan aspal, lahan bervegetasi dan diatas permukaan tanah
Dari tabel termometer bola kering (Tвк) dan termometer bola basa (TBB) dapat dilihat bahwa suhu udara di atas permukaan aspal lebih rendah daripada dipermukaan tanah. Hal ini disebabkan salah satunya karena perbedaan penerimaan cahaya matahari. Penerimaan cahaya matahari diatas permukaan aspal terhambat sedangkan pada permukaan tanah, cahaya matahari diterima langsung tanpa ada hambatan.
Dari hasil pengukuran suhu dan kelembapan udara pada berbagai tempat dapat dinyatakan bahwa diberbagai tempat yang berbeda-beda. Hal ini dapat dibuktikan dari pengukuran yang telah dilakukan dipadang rumput, di lapangan terbuka, dan dipermukaan aspal.



BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil yang didapat dapat disimpulkan bahwa:
1.      Suhu pada bola basah lebih rendah dari pada suhu pada bola kering karena pada suhu bola basah selalu ditetesi air dan diberi kapas yang menghalangi sinar matahari langsung ke alat sedangkan pada bola kering tidak.
2.      Kelembaban yang didapat lebih tinggi nilainya pada lahan yang terbuka atau lahan yang dipermukaannya dengan kelembaban rata-rata 60 0C. Hasil kelembaban didapat dari hasil selisih antara bola kering dikurang bola basah.
3.      Perubahan pancaran sinar radiasi keberbagai tempat akan mengakibatkan perubahan suhu.


4.2 Saran
Harus adanya keseriusan dan ketelitian terutama pada saat menentukan titik dry and wet suhu pada thermometer. Pada saat melaksanakan praktikum, dry and wet thermometer jangan sampai terkena cahaya matahari secara langsung, karena hal ini juga akan dapat mempengaruhi hasil praktikum tidak optimum.



DAFTAR PUSTAKA
Sianturi R. 2012. Pengukuran Suhu Dan Kelembaban Udara Di Berbagai VegetasiDi unduh dari https://onoe21.wordpress.com/laporan-agroklimatologi-tentang-stasiun-klimatologi/pengukuran-suhu-dan-kelembaban-udara-di-berbagai-vegetasi/ (Diakses pada, 22 oktober 2015)
Rizky, 2014. Kelembaban Relatif Udara Pada Tempat Berbeda. Di unduh dari http://riskynurhikmayani.blogspot.co.id/2014/02/ekologi-umum-kelembaban-relatif-udara.html (Diakses pada, 22 oktober 2015)
Arnikho S, W. 2013. Praktikum Agroklimatologi Penetapan Suhu Dan Kelembaban Di Beberapa Permukaan Bervegetasi Di unduh dari https://weldyarnikhosiregar.wordpress.com/laporan-kuliah-2/laporan-agroklimatologi/penetapan-suhu-dan-kelembaban-di-beberapa-permukaan-bervegetasi/ (Diakses pada, 22 oktober 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar