BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Penyakit tanaman merupakan
salah satu faktor yang mampu mengakibatkan penurunan hasil dan mutu hasil pada
tanaman pangan di Indonesia. Sebagian besar penyakit tanaman disebabkan oleh
jamur yang memproduksi mikotoksin. Secara periodik penyakit tanaman mampu
menyebar ke tanaman-tanaman utama kemudian merusak, merugikan dan bahkan
menjadi endemik. Identifikasi jamur penting dilakukan untuk usaha pengendalian
penyakit guna menunjang peningkatan produksi tanaman. Identifikasi jamur
dilakukan berdasarkan gejala penyakit pada tanaman maupun pada substrat tempat
kehidupannya, pertumbuhan koloni, dan ciri morfologinya menurut taksonomi yang
karakteristik secara mikroskopis.Jamur merupakan penyebab penyakit terbesar
(90%) pada tanaman pangan di Indonesia,, sedang 10% sisanya disebabkan oleh
bakteri, virus, dan mikoplasma / fitoplasma.
(WAHYUDI,2013)
Padi
merupakan tanaman berupa rumpun berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari
dua benua Asia dan Afrika Barat Tropis dan subtropics.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
Yang Peneybabkan Penyakit Blas Pada Tanaman Padi?
2. Bagaimana
Gejala Penyakit Blas Pada Padi?
3. Bagaimna
Cara Penyebaran Dan Cara Bertahan Hidup Jamur Pyricularia Oryzae Pada Padi?
4. Bagaimana
Cara Pengendalian Penyakit Blas Pada Padi?
1.3 TUJUAN
1. Untuk
Mengetahui Apa Yang Peneybabkan Penyakit Blas Pada Tanaman Padi
2. Untuk
Menegtahui Bagaimana Gejala Penyakit Blas Pada Padi?
3. Untuk
Enegtahui Cara Penyebaran Dan Cara Bertahan Hidup Jamur Pyricularia Oryzae Pada
Padi
Untuk
mengetahui Bagaimana cara pengendalian penyakit blas pada padi.
BAB
II
PENYEBAB
PENYAKIT
Penyakit blas
adalah salah satu penyakit utama yang menyerang pada tanaman padi. Penyakit ini
disebabkan oleh infeksi cendawan Pyricularia oryzae Cavara atau cendawan
Pyricularia grisea pada seluruh bagian tanaman padi, baik itu padi
sawah, maupun padi gogo. Cendawan Pyricularia oryzae penyebab penyakit blas
dapat menginfeksi bagian tanaman padi pada setiap tahapan pertumbuhan dengan
membentuk bercak pada daun, ruas batang, leher malai, dan malai..
(Andriansyah,2013)
Penyakit blas (Pyricularia grisea) merupakan salah
satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada pertanaman padi gogo dan
sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah. Hal ini menjadi penting
artinya, terutama dengan adanya perluasan padi gogo ataupun penggunaan padi
unggul yang rentan terhadap blas. Wilayah dominan penyebaran blas yang telah
dilaporkan di Indonesia meliputi provinsi Jabar (1.781 ha), Sumsel (1.084 ha),
Sumut (624 ha), Kalteng (395 ha), Bali dan NTB sekitar (200 ha). (Hasanuddin,
2003). Penyakit blas akhir-akhir ini juga dilaporkan menginfeksi
varietas-varietas unggul baru menjelang panen dan berpotensi secara nyata akan
menurunkan hasil padi dalam skala nasional.(Arya,2012)
Jamur Pyricularia oryzae dapat menginfeksi
pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang
panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, Pyricularia
oryzae menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa
bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase
pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada
tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher
infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah
sebagai patogen tular benih (seed borne).
Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher,
patah leher, tekek (jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Penyakit blas juga
dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum, sorgum dan spesies
rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan
kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat
menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk
atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir
padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering
menyebabkan tanaman padi menjadi puso, seperti yang terjadi di Lampung dan
Sumatera Selatan.
Pyricularia oryzae juga dapat menyebabkan tangkai
malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika
infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi.
Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi
membusuk dan rebah.
.
BAB
III
GEJALA
PENYAKIT BLAS
Penyakit blas menyerang tanaman padi mulai dari
persemaian sampai pengisian bulir padi. Cendawan P. grisea dapat
membentuk bercak pada daun padi, buku batang, leher malai, cabang malai, bulir
padi, dan kolar daun Bercak pada pelepah daun padi jarang ditemukan. Ukuran
bercak sebesar 1-1,5 cm X 0,3-0,5 cm. Bercak berwarna kelabu atau
keputih-putihan dengan pinggir berwarna coklat. Ukuran dan warna bercak dapat
bervariasi sesuai dengan keadaan lingkungan, kerentanan tanaman dan umur
bercak. Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun yang
menyerang tanaman padi pada fase vegetatif dan blas leher yang menyerang pada
awal pembungaan (Bonman, 1992). Serangan serius pada fase vegetatif dapat
menyebabkan matinya tanaman padi dan pada fase generatif dapat menyebabkan
patahnya leher malai dan hampanya bulir padi. (Yuliani,2014)
Bentuk khas dari bercak blas daun adalah belah
ketupat dengan dua ujungnya kurang lebih runcing. Awalnya bercak berukuran
kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini terus
membesar pada varietas yang rentan, khususnya bila dalam keadaan lembap. Bercak
yang telah berkembang terlihat pada bagian tepi berwarna coklat dan bagian
tengah berwarna putih keabu-abuan. Bercak yang telah berkembang penuh mencapai
panjang 1–1,5 cm dan lebar 0,3–0,5 cm dengan tepi berwarna coklat
|
Gejala blas daun
|
gejala blas leher
|
Bercak pada daun yang rentan tidak membentuk tepi yang jelas. Bercak
tersebut dikelilingi oleh warna kuning pucat (halo area), terutama pada
lingkungan yang kondusif seperti keadaan lembap dan ternaungi. Selain itu,
perkembangan bercak juga dipengaruhi oleh kerentanan varietas dan umur bercak
itu sendiri. Bercak tidak akan berkembang dan tetap seperti titik kecil pada
varietas yang tahan. Hal ini disebabkan oleh proses perkembangan konidia dari
cendawan P. grisea dalam jaringan inangnya terhambat. Pada lingkungan
yang kondusif, bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya
sebagian besar daun. Blas daun dapat menyebabkan kematian keseluruhan tanaman
pada varietas rentan yang masih muda sampai stadia anakan (Yuliani,2014)
Sedangkan blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal
leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai dan patah
karena tangkai malai membusuk. Apabila infeksi patogen Pyricularia oryzae
terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir tanaman padi.
Serangan patogen blas tidak hanya pada bagian daun dan malai, namun bagian
batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah (Ou,
1985). Serangan Pyricularia oryzae pada kolar daun (daerah pertemuan
antara helaian daun dan pelepah) menimbulkan gejala blas kolar berwarna coklat.
Blas kolar yang terj adi pada daun bendera atau pada daun kedua terakhir dapat
menyebabkan pengaruh yang nyata pada produksi padi (Yuliani,2014)
BAB III
PENYEBARAN DAN CARA BERTAHAN HIDUP PATOGEN
A. Penyebaran
Perbedaan reaksi suatu varietas terhadap blas disebabkan oleh adanya
perbedaan dan perubahan ras antar lokasi dan adanya perubahan komposisi ras
yang dominan di suatu wilayah sebaran. Hingga saat ini telah terdeteksi 64 ras
blas, beberapa diantaranya terdapat di Sitiung (Sumatera Barat). Ras baru ini
terutama ditemukan di Karang Agung (Sumatera Selatan) dan Jawa Barat. Ras-ras
blas tersebut dapat menyerang varietas Lematang, Kapuas, Krueng Aceh, IR64,
Cisokan dan Cisadane. Di Sitiung, ras-ras blas dapat menyerang padi gogo
varietas Sentani, Tondano, Maninjau, Ranau, Arias, Bicol, dan C-22. Sedangkan
varietas Semariti dan Sirendah masih mampu bertahan (Nasution et al. 1992
dalam Yuliani,2014).
Cara bertahan hidup pathogen
Karakteristik sebaran dengan siklus hidup yang pendek sekitar 6
hari, dan potensi munculnya ras-ras baru yang lebih virulen menyebabkan upaya
pengendalian tetap diperlukan. Pengendalian yang paling umum dilakukan adalah
penggunaan varietas tahan dan fungisida. Varietas-varietas tahan telah banyak
terbukti hasilnya, namun demikian beberapa varietas tahan terhadap penyakit
blas hanya mampu bertahan beberapa musim tanam. Keadaan ini terjadi karena
adanya proses adaptasi, mutasi genetik dan penyakit blas membentuk ras-ras baru
yang lebih virulen, sehingga menyebabkan varietas yang semula tahan menjadi
rentan.
Padi merupakan inang utama sebagai tempat berkembangnya jamur Pyricularia
oryzae sehingga apabila tanaman padi tumbuh serempak di suatu
hamparan dan sudah pernah ada gejala serangan sebelumnya maka besar kemungkinan
blas ini akan segera menyebar apabila didukung oleh kelembapan dan suhu optimum
yaitu antara 24º C – 28º C. (wordpess,2013)
Pyricularia oryzae menyerap nutrisi tanaman padi untuk memperbanyak diri
dan mempertahankan hidup. Bila menyerang pada daun muda, menyebabkan proses
pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati. Blas
pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase pertumbuhan hingga fase
anakan maksimum. Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak
menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal
pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Penggunaan
fungisida pada fase vegetatif sangat dianjurkan apabila guna menekan tingkat
intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai
malai (blas leher).
Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam
rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur
tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea
secara berlebihan. Pemupukan unsur Nitrogen dimusim penghujan yang tinggi juga
akan memicu pertumbuhan Pyricularia oryzae. Pemupukan nitrogen
yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan
daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan
menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi.
Penanaman padi terutama pada musim tanam rendengan/hujan haruslah
ekstra hati-hati. Dengan curah hujan yang tinggi serta adanya faktor angin
memicu perkembangan blas dapat meluas dengan cepat. Pengelolaan jarak tanam
yang terlalu rapat juga akan mempengaruhi kecepatan perluasan penyakit ini.
Penyebaran penyakit bisa melalui benih, angin sisa tanaman padi
dilapangan dan inang lainnya terutaman tanaman dari golongan graminae/
rerumputan.
BAB
V
PENGENDALIAN
PENYAKIT
Keberhasilan pengendalian penyakit blas sangat dipengaruhi oleh
kemampuan faktor lingkungan terutama iklim mikro tanaman, keseimbangan
penyerapan hara dan tingkat kesuburan tanah. Kondisi lingkungan berpengaruh
kepada laju perubahan ras patogen
meliputi varietas tahan, musim tanam yang tepat, pemakaian pupuk seimbang dan
penggunaan fungisida secara tepat. Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:
A. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT)
pada tanaman padi .
Salah
satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT(Organisme
penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut :
1. Penggunaan varietas tahan &
pembenaman jerami
Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat
dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk
ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll. Proses dekomposisasi jerami selain
dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan
tidak berpotensi untuk berkembang.
Penyakit blas berupa miselia yang dapat bertahan pada
sisa-sisa tanaman padi, yaitu jerami dan biji sehingga sumber inokulum selalu
tersedia dari satu musim ke musim tanam berikutnya. Proses dekomposisasi dapat
berfungsi ganda yaitu dapat memanfaatkan jerami sebagai pupuk dan sumber
inokulum di lapangan dapat berkurang. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu
dengan cara membenamkan jerami sisa panen dalam tanah, sehingga miselia dapat
terbunuh dan tidak berpotensi untuk berkembang. Pembentukan jerami mengurangi
sumber inakulasi awal sehingga intensitas pada fase vegetatif dan generatif
dapat berkurang. Penggunaan varietas tahan dapat mengurangi peluang infeksi
awal atau penghambatan penetrasi awal sehingga cenderung patogen blas tidak
dapat berkembang maksimal pada tanaman. (arya,2012)
2. Pemupukan berimbang
Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah
endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan
dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi
infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada
daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di
lapangan.
3. Waktu tanam yang tepat
Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak
embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas
yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah
pertanaman padi setiap lokasi.
Perbedaan keadaan iklim dalam skala besar maupun skala kecil
pada setiap wilayah, menyebabkan perlunya pengelolaan penyakit blas yang
berbeda pula dalam pengendaliannya. Khusus untuk blas leher ( neck blast),
kurun waktu pada saat fase padi mulai berbunga bersamaan dan terdapat banyak
embun, baik pada malam, pagi dan sore hari memberi peluang berkembangnya
penyakit blas leher. Pada kondisi demikian, terdapat banyak embun pada pagi dan
sore hari, faktor suhu seperti 30 - 32 °C tidak berpengaruh, sehingga infeksi
selalu ditemukan dengan intensitas berat. Pengaturan waktu tanam pada saat yang
bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan
penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari
wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.
B. Penggunaan Fungisida Kimia &
Nabat
a. Fungisida Kimia
Perlakuan benih dengan fungisida
sistemik mampu melindungi bibit dari serangan penyakit blas sampai pada umur 30
hari setelah tanam. Penyemprotan fungisida pada fase akhir bunting dan awal berbunga
dapat menekan penyakit blas leher. Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan
bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan
Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Ada beberapa fungisida kimia
yang bekerja secara sistemik di pasaran contoh :mikocide 70,Trycyclazole,
Amistartop, Score, Delsen MX, Kuproxat, Sorento,Dense dll
b.
Fungisida Nabati
Penggunaan bahan ekstrak nabati
sebagai fungisida telah dianjurkan untuk pengendalian penyakit blas leher yaitu
daun, bawang putih, daun sirih, bengkoang, kayu putih dan diyakini episien dan
tidak akan mempengaruhi kestabilan lingkungan Fungisida lain yang dianjurkan
berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran adalah yang berbahan
aktif tiofanat, fosdifen, dan kasugamisin seperti Inokulan/starter Trichoderma
sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada
masa vegetatif padi.
Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas.
- Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah setempat.
- Gunakan benih sehat.
- Hidarkan penggunaan pupuk nitrogen diatas dosis anjuran.
- Hindarkan tanam padi dengan varietas yang sama terus menerus sepanjang tahun.
- Sanitasi lingkungan harus intensif karena inang alternatif patogen dapat berupa rerumputan.
- Hindari tanam padi terlambat dari tanaman petani di sekitarnya.
- Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar.
- Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik.
- Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).
- Pemakaian kompos sebagai sumber bahan organik.
DAFTAR PUSTAKA
Andriansyah.2013. penyakit blas tanaman padi. Di
unduh dari http://detiktani.blogspot.co.id/2013/06/penyakit-blas-tanaman-padi_883.html (Diakses
pada 11 mei 2016)
Arya.2012. penyakit blas dan
strategi pengendalian pada tanaman padi . di unduh dari http://aryasudiadnyana.blogspot.co.id/2012/06/penyakit-blas-pyricularia-grisea-dan.html (Diakses
pada 11 mei 2016)
Wahyudi,R.2013. Penyaki Yang disebangkan Oleh Jamur
pada padi. Di unduh dari http://www.mentari-dunia.com/2013/06/makalah-penyakit-yang-disebabkan-oleh.html
(Diakses pada 11 mei 2016)
wordpress.2015. penyakit blas pada
tanaman padi. Di unduh dari http://batmandeso.blogspot.co.id/2015/06/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav.html (Diakses
pada 11 mei 2016)