LAPORAN
AGROKLIMATOLOGI
Pengenalan
Alat-Alat Pengukur Cuaca
Disusun
Oleh:
Meida
Pane (D1B014025)
PROGRAM
STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia hidup di bumi pasti tidak
akan terpisah dengan lingkungan. Dalam lingkungan itu sendiri terdapat unsur yang penting yaitu iklim atau cuaca.
Dikatakan iklim jika terbentuk dalam waktu yang panjang dan dikatakan cuaca
jika terbentuk dalam jangka waktu yang
singkat. Pada setiap tempat tentunya memiliki iklim atau cuaca yang
berbeda tergantung dengan tofografi dan sebagainya.
Kita
bisa merasakan keadaan udara sekitar hanya dengan menggunakan indra. Tapi yang
dirasakan oleh indra adalah sangat subjektif. Karena seseorang dapat merasakan
keadaan udara pada suatu saat adalah panas sekali akan tetapi orang lain hanya
merasakan panas biasa saja. Untuk menghilangkan subjektivitas ini kemudian
digunakan alat-alat pengamatan.
Pengetahuan
tentang cuaca dan iklim adalah sangat penting sekali karena sering adanya
penyimpangan permulaan musim penghujan sangat mempengaruhi terhadap kegiatan
usaha tani di Indonesia.
Dengan demikian dapat menentukan waktu
bertani yang sesuai dengan keadaan cuaca dan iklim yang sesuai pula. Seperti
kondisi suhu (temperatur) udara, curah hujan, pola musim sangat menentukan
kecocokan dalam optimalisasi pembudidayaan tanaman pertanian. (Ruzhlieh, 2014)
Pengenalan alat-alat pengukur cuaca dalam praktikum
sangat penting karena akan berpengaruh terhadap kemampuan praktikan itu sendiri.
Banyaknya alat-alat yang harus digunakn dalam mengetahui keadaan iklim pada
sustu tempat, mengharuskan kita untuk mengenal dan memahami kinerja serta fungsi dari alat-alat
tersebut. Oleh karena itu, dilakukan praktikum pengenalan alat-alat pengukur
unsur iklim.
1.2
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum
kali iniadalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui nama alat-alat dan fungsi alat-alat
pengukur cuaca.
2. Untuk
mengetahui prinsip kerja dari alat-alat tersebut
1.3
Prinsip Teori
Secara luas meteorologi didefinisikan
sebagai ilmu yang mempelajari atmosfer yang menyangkut keadaan fisis dan
dinamisnya serta interaksinya dengan permukaan bumi di bawahnya. Dalam
pelaksanaan pengamatannya menggunakan hukum dan teknik matematik. Pengamatan
cuaca atau pengukuran unsur cuaca dilakukan pada lokasi yang dinamakan stasiun
cuaca atau yang lebih dikenal dengan stasiun meteorologi. Maksud dari stasiun
meteorologi ini ialah menghasilkan serempak data meteorologis dan data biologis
dan atau data-data yang lain yang dapat menyumbangkan hubungan antara cuaca dan
pertumbuhan atau hidup tanaman dan hewan. Lokasi stasiun ini harus dapat
mewakili keadaan pertanian dan keadaan alami daerah tempat stasiun itu berada.
Informasi meteorogis yang secara rutin diamati antara lain ialah keadaan
lapisan atmosfer yang paling bawah, suhu dan kelengasan tanah pada berbagai
kedalaman, curah hujan, dan curahan lainnya, durasi penyinaran dan reaksi
matahari (Prawirowardoyo, 1996).
Perbedaan utama di antara cuaca dan
iklim terletak pada luasnya cakupan wilayah dan waktu. Cuaca cakupan wilayahnya
lebih sempit serta waktunya lebih singkat, sedangkan iklim lebih luas dan untuk
waktu yang relatif lama. Perbedaan lainnya terletak pada fokus ilmu yang
mempelajarinya. Ilmu yang mempelajari cuaca disebut meteorologi, sedangkan ilmu
yang mempelajari iklim disebut klimatologi. Adapun persamaannya terletak pada
unsur-unsur yang terkandung di dalamnya yang meliputi suhu udara, tekanan
udara, angin, kelembapan udara, dan hujan. Cuaca yaitu kombinasi dari berbagai
kondisi atmosfer bumi yang secara terus-menerus berubah dan memengaruhi planet
bumi. Adapun iklim adalah pola cuaca khas di suatu daerah dalam jangka waktu
yang lama. (Riski,2014)
Prakiraan cuaca baik harian maupun
prakiraan musim, mempunyai arti penting dan banyak dimanfaatkan dalam bidang
pertanian. Prakiraan cuaca 24 jam yang dilakukan oleh BMG, mempunyai arti dalam
kegiatan harian misalnya untuk pelaksanaan pemupukan dan pemberantasan hama.
Misalnya pemupukan dan penyemprotan hama perlu dilakukan pada pagi hari atau
ditunda jika menurut prakiraan sore hari akan hujan lebat. Prakiraan permulaan
musim hujan mempunyai arti penting dalam menentukan saat tanam di suatu
wilayah. Jadi, bidang pertanian ini memanfaatkan informasi tentang cuaca dan
iklim mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaannya (Setiawan, 2003).
BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM
2.1 Waktu
dan Tempat
Praktikum
mengenai pengenalan alat-alat pengukur cuaca ini dilakukan di Laboraturium
Agroklimatologi pada hari Rabu 30 September 2015, dimulai pada pukul 13.00 WIB
sampai dengan selesai.
2.2 Alat
dan Bahan
1.
Thermometer
tanah
2.
Thermometer tanah tipe bengkok
3.
Hygrometer
4.
Anemometer
5.
Hand Anemometer
6.
Moisture meter
7.
Psikrometer
tipe sling
8.
Termohigrograf
9.
Kertas pias
10.
Thermometer
11.
Sangkar
cuaca
13.
Panci
Evaporasi
14.
Alat
penangkar hujan
15.
AWS(Automatic Weather Station)
2.2 Prosedur
Praktikum
1.
Dosen Pengampu memegang dan menjelaskan nama
serta fungsi dari alat-alat pengukur cuaca.
2.
Memperhatikan
alat – alat pengukur cuaca yang dijelaskan oleh dosen pengampu.
3.
Mencatat
cara kerja dari masing – masing alat ukur cuaca
4.
Mengambil
gambar masing – masing alat pengukur cuaca
BAB III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1
Hasil
|
No
|
Nama Alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1
|
Termomerer Tanah
|
|
mengukur suhu tanah.
|
|
2
|
Termometer Tanah Tipe Bengkok
|
|
muai air raksa
|
|
3
|
Hygrometer
|
|
mengukur tingkat kelembapan
pada suatu tempat
|
|
4
|
Anemometer
|
|
mengukur kecepatan angin
|
|
5
|
Hand Anemometer
|
|
Mengukur
kecepatan angin
|
|
6
|
Moisturemeter
|
|
mengukur jumlah kandungan air yang terdapat pada zat.
|
|
7
|
Psikrometer Tipe Sling
|
|
Mengukur
kelembapan nisbi udara sesaat
|
|
8
|
Termohigrograf
|
|
mencatat
otomatis temperatur sebagai fungsi waktu.
|
|
9
|
Kertas pias
|
|
pencatat
lamanya waktu intesitas cahaya matahari yag terpancar
|
|
10
|
Termometer
maximum-minimum
|
|
untuk
mengukur suhu maksimum dan minimum dalam jangka waktu tertentu.
|
|
11
|
Sangkar
cuaca
|
|
tempat alat-alat pengukur cuaca
tertentu, agar tehindar dari sinar matahari langsung dan pengaruh lingkungan.
|
|
12
|
Psikrometer Standar
|
|
Pengukur Suhu Udara dan Kelembaban Udara
|
|
13
|
Panci
Evaporasi
|
|
untuk mengukur evaporasi
|
|
14
|
Alat Penangkar Hujan Hellman
|
|
untuk mengukur jumlah curah
hujan yang turun kepermukaan tanah
|
|
15
|
Automatic Weather Station
( AWS )
|
|
untuk pengumpulan data cuaca
secara otomatis
|
3.2 Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan alat-alat yang digunakan untuk kegiatan
pengamatan iklim.Alat-alat tersebut memiliki bagian-bagian, prinsip kerja,
serta prosedur kerja dalam setiap penggunaannya. Berikut adalah penjelasan :
1. Thermometer Tanah
v
Fungsi : sebuah termometer yang khusus dirancang
untuk mengukur suhu tanah. Alat ini berguna pada perencanaan penanaman dan juga
digunakan oleh para ilmuwan iklim, petani, dan ilmuwan tanah. Suhu tanah dapat
memberikan banyak informasi yang bermanfaat, terutama pemetaan dari waktu ke
waktu.
v Bagian-bagian
: a. Batang
thermometer, b. Kaca
pelindung atau tutup,
c. Jarum penunjuk suhu, d. Skala
v
Ciri-ciri :pada bagian skala dilengkungkan, namun
ada juga yang tidak dilengkungkan. Hal ini dibuat untuk memudahkan dalam
pembacaan termometer dan menghindari kesalahan paralaks.
v Cara keja :
Thermometer tanah ini tergolong semi otomatis, sebab setelah kaki dari
thermometer ini terbenam dalam tanah maka dengan sendirinya keadaan suhu tanah
akan dapat dilihat pada layar yang ditunjukan oleh jarum penunjuk.
2.
Thermometer tanah tipe bengkok
v Fungsi : Mengukur suhu permukaan tanah dengan jeluk 20 cm.
v Bagian-bagian :
a. Reservoir
untuk jeluk tanah 20 cm
b. Pipa kapiler berisi raksa
v Satuan :
a.. Satuan Alat : ºC
b. Satuan Pengukuran : ºC
c. Ketelitian
Alat : 1ºC
d. Prinsip
kerja : muai air raksa
v Cara kerja : Tanah digali pada kedalaman yang
diinginkan (20 cm) setelah ujung reservior dimasukan kenaikan suhu tanah
menyebabkan air raksa memuai dan akan mengisi kolom hampa udara sampai pada
skala tertentu.
v Kelebihan : mudah dilihat skalanya setelah
ditanam karena bentuknya bengkok. Kekurangannya yaitu harus menggunakan bor
untuk melubangi tanah 20 cm karena hanya dapat mengukur pada kedalaman
tersebut. Penggunaan bor ini dimaksudkan karena alat bisa rusak jika dipaksa
masuk ke dalam tanah secara lanngsung.
3.
Hygrometer
v Fungsi: sejenis alat untuk mengukur tingkat
kelembapan pada suatu tempat
v Keterangan:
a. Jarum penunjuk skala suhu,
b. Jarum penunjuk skala kelembaban,
c. Spiral dwi logam,
d. Spiral benda higroskopis,
e. Satuan alat derajat celcius dan %
f.
Satuan
pengukuran derajat celcius dan %
g. Ketelitian alat 1 % dan 5
C:
v Cara kerja : dengan menggunakan dua thermometer
a.
saat
pengamatan alat haruster lindung dari pengaruh sinar matahari secara langsung
dan tetesan air hujan.
b.
suhu
udara dan kelembaban dibaca langsung pada alat.
4.
Anemometer
v Fungsi
: perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin,
dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam sebuah stasiun cuaca
v Bagian-bagian :
a. Mangkuk. b. Petunjuk arah mata angin,
c. Generator
sinyal atau alat penghitung pencatatan.
v Cirri-ciri :
Dipasang pada lapangan terbuka diketinggian
10
meter di atas tanah atau ditempatkan sedimikian rupa sehingga tidak mendapat
pengaruh dari penghalang di sekitarnya.
v Pemeliharaan : Di
tempatkan pada tempat yang aman dan longgar agar komponen-komponennya terutama
baling-balingnya tidak mudah putus karena sempitnya ruangan.
v Cara kerja : Alat dipasang pada
tiang/menara dengan ketinggian 0,5 m, 2 m, atau 10 m sesuai dengan
masing-masing penggunaan.
v Pemasangan
alat : Tiang anemometer dipasang
menggunakan 3 buah labrang/ kawat penahan tiang, dimana salah satu
kawat/labrang berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar labrang
membentuk sudut 1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang
anemometer merupakan faktor terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal
ini mengingat tiang anemometer memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung
runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir.
5.
Moistumeter
v Fungsi :
mengukur jumlah kandungan air yang terdapat pada zat. Alat ini juga bisa
dipakai untuk mengukur tingkat kelembaban zat. Dari hasil pengukuran yang
dilakukan, diharapkan akan bisa diketahui apakah bahan sudah siap untuk dipakai
atau belum.
v Prinsip
kerja :
a.
Termogravimetri
Cara ini dilakukan dengan dua teknik utama yakni pemanasan
Cara ini dilakukan dengan dua teknik utama yakni pemanasan
b.
Konduktometri
Prinsip atau cara inilah penimbangan.
Prinsip atau cara inilah penimbangan.
v Selisih
berat sebelum pemanasan dan setelah pemanasan merupakan nilai dari kandungan
air yang ditentukan tersebut. yang dilakukan oleh alat moisture
meter tersebut, yakni salah satu teknik pengukuran kadar air dengan teknik
elektrik, dimana pengukura didasarkan pada konduktivitas atau hantaran listrik.
Kadar air akan berbanding linear terhadap kapasitas listrik yang diukur.
Hantaran listrik tersebut akan ditangkap oleh alat yang dinamakan detektor
6. Hand Anemometer
v Fungsi
: Mengukur kecepatan angin
v Bagian-bagian:
a.
Mangkok
anemometer
b.
Speed
meter
c.
Skala
beauford
d.
Tangkai
pegangan tangan
v Satuan:
a.
Satuan
Alat : m/s
b.
Satuan
Pengukuran : m/s
c.
Ketelitian
Alat : 1 m/s
v Prinsip
kerja : GGL
induksi
v Cara
kerja : Angin
menggerakkan anemometer (motor yang ada dalam kumparan) sehingga menimbulkan
arus listrik yang akhirnya menimbulkan gerakan jarum penunjuk skala.
7. Psikrometer
Tipe Sling
v Fungsi :
Mengukur kelembapan nisbi udara sesaat
v Keteranagn :
a.
Fungsi
: Satuan alat : oC
b.
Satuan
Pengukuran : %
c.
alat
: 0,2oC
v Prinsip
Kerja : Prinsip
termodinamika/adiabatik
v Bagian
– bagiannya :
a.
Termometer
bola basah (TBS) menunjukan suhu udara
b.
Termometer
bola kering (TBK) untuk mencatat kelembaban udara dengan bantuan Table.
c.
Pegangan
v Cirri-ciri;
Memiliki ketelitian yang cukup
tinggi dibanding psikometer lain, Mudah dioperasikan karena relatif
sederhana, Perhitungannya agak rumit karena harus menghitung temperatur pada
TBB danTBK dulu
v Cara
Kerja : Pembacaan dilakukan dengan membaca nilai suhu yang ditunjukkan oleh
termometer bola kering dan bola basah, kemudian hitung selisih suhu antara bola
kering dan bola basah. Nilai selisih menghasilkan persentase kelembaban udara
dengan bantuan tabel kertas pias. Pada pengamatan pias harus dicatat tanggal
dipasang dan diangkat beserta jamnya. Titik baca pias adalah perpotongan garis
lurus dengan garis vertical (garis pembagi skala waktu) dan nilai suhu serta
kelembaban dapat dilihat pada garis horizontal.
8. Termohigraph
v Fungsi: mencatat otomatis temperatur
sebagai fungsi waktu.
v Keterangan:
a. Satuan alat : oC
dan %
b. Satuan
Pengukuran : oC dan %
c. Ketelitian alat
: 5 oC (termometer) dan 0,5% (higrometer)
v
Bagian –
bagiannya :
a. Lempeng dan
logam bimetal / sensor kuda,
b. Rambut / sensor
rambut ekor kuda,
c. Sistem tuas
higrograf
d. Sistem tuas
termohigrograf
e. Pena
f.
Silinder kertas grafik
v Ciri-Ciri: Thermograph ini adalah logam
panjang yang terdiri dari 2 bagian, kuningan dan invar.
v Cara
pemasangan:
Bentuk bimetal merupakan spiral. Terpasang pada sumbu horizontal dan diluar
kotak Thermograph. Satu ujung bimetal dipasang pada kotak dengan sekrup
penyetel halus, sehingga letak pena dapat diatur. Ujung lain dihubungkan
ketangkai pena melalui sumbu horizontal sehingga dapat menimbulkan track/
rekaman pada kertas pias yang berputar 24 jam per rotasi.
v Cara
kerja: Sebelum
dipakai, thermograph harus dikalibrasi terlebih dahulu.
v Pemeliharaan: Alat ini harus ditempatkan dalam
sangkar apabila dipakai untuk mengukur atmospher.
9. Kertas Pias
v Fungsi
: pencatat lamanya waktu intesitas
cahaya matahari yag terpancar.
v Bagian-bagian:
a.
Kertas
Pias Lurus adalah alat pencatat intensitas cahaya matahari pada awal bulan
Maret sampai pertengahan April.
b.
Kertas
Pias Pendek adalah ala pencatat instensitas cahaya matahari pada pertengahaan
Oktober sampai akhir Februari.
c.
Kertas
Pias Panjang adalah alat pencatat intensitas cahaya matahari pada pertengahan
April – akhir Agustus.
v Cara
kerja: Lamanya
Penyinaran matahari dicatat dnegan jalan memusatkan sinar matahari melalui bola
kristal hingga fokus matahari tersebut tepat mengenai kertas pias yang khusus
sehingga meninggalkan jejak pias pada kertas.
10. Thermometer
Maksimum dan Minimum
v Fungsi
:untuk mengukur suhu
maksimum dan minimum dalam jangka waktu tertentu.
v Bagian-bagian : a.
Skala, b. Suhu
maksimum, c. Suhu minimum d.Jarum perak, e. Alkohol, f. Air
raksa
v Cirri-ciri ; Ciri khas dari termometer ini adalah
terdapat penyempitan pada pipa kapiler di dekat reservoir
v Cara
kerja : bekerja dengan adanya katup pada leher
tabung dekat bohlam. Saat suhu naik, air raksa didorong ke atas melalui katup
oleh gaya pemuaian. Saat suhu turun, air raksa tertahan pada katup dan tidak
dapat kembali ke bohlam membuat air raksa tetap di dalam tabung. Pembaca
kemudian dapat membaca temperatur maksimum selama waktu yang telah ditentukan.
Untuk mengembalikan fungsinya, termometer harus diayun dengan keras.
v Pemeliharaan : Thermometer
disimpan dengan baik dan hati-hati jikalau tidak dipergunakan dan sesekali
dilap atau dibersihkan dari debu maupun kotoran.
11.
Sangkar
Cuaca atau Sangkar meteorology
v Fungsi:
sebagai tempat alat-alat pengukur
cuaca tertentu, agar tehindar dari sinar matahari langsung dan pengaruh
lingkungan.
v Ciri-ciri: Sangkar ini terbuat dari kayu jati
yang dicat warna putih, bentuknya segi 4 , dengan setiap dinding diberi jalusi
berlapis dua, dan juga atapnya terbuat dari papan kayu , semua itu maksudnya
agar didalam sangkar ada sirkulasi udara.
v Didalam sangkar Meteorologi dipasang
alat-alat seperti Thermometer bola kering, Thermometer bola basah, Thermometer
maximum, Thermometer minimum, dan Evaporimeter jenis piche. Pada stasiun
meteorologi pertanian dan klimatologi dipasang Evaporometer jenis Keshner
tersendiri.
12. Psikrometer
Standar
v Fungsi :
Pengukur Suhu Udara dan Kelembaban Udara
v Satuan :
Suhu Derajat Celcius, Kelembaban dalam Persen ( %).
v Bagian-bagian :
a.
Thermometer
Bola Kering (TBK): tabung air raksa dibiarkan kering sehingga akan mengukur
suhu udara sebenarnya.
b.
Thermometer
Bola Basah (TBS): tabung air raksa dibasahi agar suhu yang terukur adalah
suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air dapat
berkondensasi.
c.
Thermometer
Maximum: Thermometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh)
didekat tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila
suhu udara meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara
mendingin. Untuk mengembalikan air raksa ketempat semula, thermometer ini harus
dihentakan berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet.
d.
Thermometer
Minimum: Thermometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi suhu
udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih
tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum.
Prinsip kerja thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang
(indeks) pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan
indeks ikut tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap
pada posisi dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus miring sekitar
20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga
dimaksudkan untuk mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah
berada diposisi bawah (suhu minimum).
v Pemeliharaan : Pembasah
termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor.Gantilah kain
pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang.Dua minggu atau sebulan
sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor.Musim kemarau pembasah cepat
sekali kotor oleh debu.Air pembasah harus bersih dan jernih.Pakailah air bebas
ion atau aquades.
13. Evaporimeter
Panci Terbuka
v
Fungsi
: untuk mengukur evaporasi. Makin luas permukaan
panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya
terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya.
v
Bagian-bagian:
a.
Panci
Bundar Besar
Terbuat dari besi yang dilapisi bahan anti karat. Panci ini mempunyai garis tengah 122 cm dan tingginya 25,4 cm.
Terbuat dari besi yang dilapisi bahan anti karat. Panci ini mempunyai garis tengah 122 cm dan tingginya 25,4 cm.
b.
Hook_Gauge
Suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook gauge buatan Perancis mempunyai micrometer yang dibagi menjadi 20 bagian. Dalam satu bagian menyatakan perubahan tinggi jarum 0,1 mm, berarti untuk satu putaran penuh, perubahan tinggi jarum sebanyak 2mm
Suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook gauge buatan Perancis mempunyai micrometer yang dibagi menjadi 20 bagian. Dalam satu bagian menyatakan perubahan tinggi jarum 0,1 mm, berarti untuk satu putaran penuh, perubahan tinggi jarum sebanyak 2mm
c.
Still_well
Bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki. Pada tiap kaki terdapat skrup untu menyetel/ mengatur kedudukan bejana agar letaknya horizontal. Bejana digunakan selain untuk tempat meletakkan hook gauge, juga membuat permukaan air dalam bejana menjadi tenang dibandingkan dengan pada panci, sehingga penyetelan ujung jarum dapat lebih mudah dilakukan.
Bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki. Pada tiap kaki terdapat skrup untu menyetel/ mengatur kedudukan bejana agar letaknya horizontal. Bejana digunakan selain untuk tempat meletakkan hook gauge, juga membuat permukaan air dalam bejana menjadi tenang dibandingkan dengan pada panci, sehingga penyetelan ujung jarum dapat lebih mudah dilakukan.
d.
Thermometer
air dan thermometer maximum/ minimum
e. Cup Counter Anemometer
Alat ini dipasang sebelah selatan dekat pusat panci, dengan mangkok-mangkoknya sedikit lebih tinggi.
Alat ini dipasang sebelah selatan dekat pusat panci, dengan mangkok-mangkoknya sedikit lebih tinggi.
f.
Pondasi/
Alas
Dibuat dari kayu dicat sehingga tahan terhadap cuaca dan rayap. Bagian ata kayu dicat putih untuk mengurngi penyerapan radiasi sinar matahari.
Dibuat dari kayu dicat sehingga tahan terhadap cuaca dan rayap. Bagian ata kayu dicat putih untuk mengurngi penyerapan radiasi sinar matahari.
g. Penakar
hujan biasa
Untuk memperoleh data curah hujan, yang digunakan dalam menentukan penguapan pada hari-hari hujan. Penakar hujan dipasang +2m dari evaporimeter.
Untuk memperoleh data curah hujan, yang digunakan dalam menentukan penguapan pada hari-hari hujan. Penakar hujan dipasang +2m dari evaporimeter.
14. Alat
Penakar Hujan Hellman
v
Fungsi : untuk mengukur jumlah curah hujan yang
turun kepermukaan tanah per satuan luas
v Cara pemasangan : dipasang dengan cara disekrup pada alas
papan yang dipasang pada pondasi beton (lihat gambar), sehingga tinggi
permukaan. corongnya dari permukaan tanah adalah 140 Cm. Letak permukaan corong
penakar, dan dasar tempat meletakkan tabung berpelampung harus benar-benar
datar (waterpas).
v Cara
kerja:
a.
Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian
terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta
tangkainya terangkat (naik keatas).
b.
Pada
tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai
pelampung.
c.
Gerakkan
pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam yang dapat
berputar dengan bantuan tenaga per.
d.
Jika
air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada pias.
e.
Setelah
air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam tabung
akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung
dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal.
f.
Dengan demikian jumlah curah hujan dapat
dihitung/ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat
pada pias.
v Cara
pemeliharaan:
a.
Corong penakar hujan harus selalu diperiksa
dan dibersihkan dari debu / kotoran agar tidak menyumbat.
b.
Pena
harus tetap bersih bila rusak segera diganti, apabila penanya jenis catridge
agar diganti kalau sudah tidak nyata pencatatannya. Pemasangan kembali pena
tidak boleh terlalu keras menekan pias, karena akan mengganggu kepekaan dan
ketelitian alat.
c.
Apabila
gerakan pelampung saat naik dan turun tidak lancar atau tersendat, bersihkan
tangkai pelampung dan periksa / bersihkan pipa gelas siphon serta tabung tempat
pelampung dari kotoran / lumut yang melekat.
15. Automatic Weather
Stations
(AWS)
v
Fungsi : suatu peralatan atau sistem terpadu
yang di disain untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses
agar pengamatan menjadi lebih mudah.
v
Bagian-bagian : AWS ini umumnya dilengkapi dengan
sensor, RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian lainnya.
Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer.
Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer.
v Alat ini dapat mengamati dan
mencatat unsur - unsur cuaca, yaitu Suhu udara, Suhu tanah dengan kedalaman 10
cm dan 20 cm, Kelembaban udara, Titik embun, Tekanan udara, Arah dan kecepatan
angin, Curah hujan, dan Radiasi matahari. Waktu pengamatan dilakukan selama 24
jam.
v Pemeliharaan
:
a. Di atas tanah yang tertutup rumput pendek atau
pada area lokal reperesentatif
b. Sensor-sensor meteorologi harus
diletakkan jauh dari pengaruh luar seperti bangunan dan pohon (jarak tergantung
daripada variabel jenis penghalang).
c. Sensor harus diletakkan pada
ketinggian yang sama (dan ditempatkan) sesuai dengan peralatan konvensional.
d. Jaga kestabilan terhadap lokasi
(perubahan tumbuh-tumbuhan, bangunan, dll)
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan
yang di dapat dari praktikum kali ini :
1.
Setiap
peralatan unsur iklim/cuaca memiliki cara kerja yang berbeda-beda sesuai dengan
fungsi masing-masing alat ukur dengan tata letaknya.
2.
Pemasangan
alat ukur umumnya dilakukan/dipasang di tempat terbuka.
3.
Cara kerja tiap
alat ukur akan menghasilkan data pencatatan yang akurat, bila penggunaannya
dilakukan dengan baik dan benar tanpa kesalahan.
4.
Cara pengamatan
peralatan ukur unsur iklim/cuaca disesuaikan dengan kerja masing-masing alat
ukut tersebut
4.2 Saran
Adapun
saran yang dapat saya berikan dalam praktikum ini antaraadalah:
1. Untuk peralatan agar lebih
dilengkapi sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar dan mahasiswa bisa mengenal, memahami lebih
jauh dan mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi tentang alat – alat
praktikum tersebut.
2. Melakukan pegamatan haruslah dengan teliti supaya
mendapatkan hasil yang memuaskan.
Daftar Pustaka
Anonim,
2013. Pengenalan Alat-Alat Klimatologi.
Di unduh dari https://onoe21.wordpress.com/laporan-agroklimatologi-tentang-stasiun- klimatologi/pengenalan-alat-alat-klimatologi/ (diakses pada 01 oktober 2015)
Harni,2015 . Laporan
Praktikum Klimatologi Pengenalan Alat-Alat Klimatologi
di
unduh dari http://harnisuci06.blogspot.co.id/2015/01/laporan-klimatologi-pengenalan-alat.html
(diakses pada 01 oktober 2015)
Prawiroardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung,. Di unduh dari http://ries091.blogspot.co.id/2013/12/laporan-praktikum-acara-i-pengenalan_6590.html
(diakses pada 01 oktober 2015)
Riski,
2014. Pengenalan Stasiun Dan Peralatan Di Stasiun
Klimatologi. Di unduh dari http://riskiramadhonalubis.blogspot.co.id/2014/10/v-behaviorurldefaultvmlo.html
(diakses pada 01 oktober 2015)
Setiawan, A. C. 2003.
Otomatisasi stasiun cuaca untuk menunjang kegiatan. Di unduh dari http://harnisuci06.blogspot.co.id/2015/01/laporan-klimatologi-pengenalan-alat.html (diakses pada 01 oktober 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar