Sabtu, 17 Oktober 2015

laporan Agroklimatologi pengenalan alat-alat pengukur cuaca


LAPORAN AGROKLIMATOLOGI
Pengenalan Alat-Alat Pengukur Cuaca





Disusun Oleh:
Meida Pane (D1B014025)


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014/2015





BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang
            Manusia hidup di bumi pasti tidak akan terpisah dengan lingkungan. Dalam lingkungan itu sendiri terdapat unsur  yang penting yaitu iklim atau cuaca. Dikatakan iklim jika terbentuk dalam waktu yang panjang dan dikatakan cuaca jika terbentuk dalam jangka waktu yang  singkat. Pada setiap tempat tentunya memiliki iklim atau cuaca yang berbeda tergantung dengan tofografi dan sebagainya.
Kita bisa merasakan keadaan udara sekitar hanya dengan menggunakan indra. Tapi yang dirasakan oleh indra adalah sangat subjektif. Karena seseorang dapat merasakan keadaan udara pada suatu saat adalah panas sekali akan tetapi orang lain hanya merasakan panas biasa saja. Untuk menghilangkan subjektivitas ini kemudian digunakan alat-alat pengamatan.
Pengetahuan tentang cuaca dan iklim adalah sangat penting sekali karena sering adanya penyimpangan permulaan musim penghujan sangat mempengaruhi terhadap kegiatan usaha tani di Indonesia. Dengan demikian  dapat menentukan waktu bertani yang sesuai dengan keadaan cuaca dan iklim yang sesuai pula. Seperti kondisi suhu (temperatur) udara, curah hujan, pola musim sangat menentukan kecocokan dalam optimalisasi pembudidayaan tanaman pertanian. (Ruzhlieh, 2014)
Pengenalan alat-alat pengukur cuaca dalam praktikum sangat penting karena akan berpengaruh terhadap kemampuan praktikan itu sendiri. Banyaknya alat-alat yang harus digunakn dalam mengetahui keadaan iklim pada sustu tempat, mengharuskan kita untuk mengenal dan   memahami kinerja serta fungsi dari alat-alat tersebut. Oleh karena itu, dilakukan praktikum pengenalan alat-alat pengukur unsur iklim.

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum kali iniadalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui nama alat-alat dan fungsi alat-alat pengukur cuaca.
2.      Untuk mengetahui prinsip kerja dari alat-alat tersebut

1.3  Prinsip Teori
Secara luas meteorologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari atmosfer yang menyangkut keadaan fisis dan dinamisnya serta interaksinya dengan permukaan bumi di bawahnya. Dalam pelaksanaan pengamatannya menggunakan hukum dan teknik matematik. Pengamatan cuaca atau pengukuran unsur cuaca dilakukan pada lokasi yang dinamakan stasiun cuaca atau yang lebih dikenal dengan stasiun meteorologi. Maksud dari stasiun meteorologi ini ialah menghasilkan serempak data meteorologis dan data biologis dan atau data-data yang lain yang dapat menyumbangkan hubungan antara cuaca dan pertumbuhan atau hidup tanaman dan hewan. Lokasi stasiun ini harus dapat mewakili keadaan pertanian dan keadaan alami daerah tempat stasiun itu berada. Informasi meteorogis yang secara rutin diamati antara lain ialah keadaan lapisan atmosfer yang paling bawah, suhu dan kelengasan tanah pada berbagai kedalaman, curah hujan, dan curahan lainnya, durasi penyinaran dan reaksi matahari (Prawirowardoyo, 1996).
Perbedaan utama di antara cuaca dan iklim terletak pada luasnya cakupan wilayah dan waktu. Cuaca cakupan wilayahnya lebih sempit serta waktunya lebih singkat, sedangkan iklim lebih luas dan untuk waktu yang relatif lama. Perbedaan lainnya terletak pada fokus ilmu yang mempelajarinya. Ilmu yang mempelajari cuaca disebut meteorologi, sedangkan ilmu yang mempelajari iklim disebut klimatologi. Adapun persamaannya terletak pada unsur-unsur yang terkandung di dalamnya yang meliputi suhu udara, tekanan udara, angin, kelembapan udara, dan hujan. Cuaca yaitu kombinasi dari berbagai kondisi atmosfer bumi yang secara terus-menerus berubah dan memengaruhi planet bumi. Adapun iklim adalah pola cuaca khas di suatu daerah dalam jangka waktu yang lama. (Riski,2014)
Prakiraan cuaca baik harian maupun prakiraan musim, mempunyai arti penting dan banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Prakiraan cuaca 24 jam yang dilakukan oleh BMG, mempunyai arti dalam kegiatan harian misalnya untuk pelaksanaan pemupukan dan pemberantasan hama. Misalnya pemupukan dan penyemprotan hama perlu dilakukan pada pagi hari atau ditunda jika menurut prakiraan sore hari akan hujan lebat. Prakiraan permulaan musim hujan mempunyai arti penting dalam menentukan saat tanam di suatu wilayah. Jadi, bidang pertanian ini memanfaatkan informasi tentang cuaca dan iklim mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaannya (Setiawan, 2003).



BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1     Waktu dan Tempat
          Praktikum mengenai pengenalan alat-alat pengukur cuaca ini dilakukan di Laboraturium Agroklimatologi pada hari Rabu 30 September 2015, dimulai pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai.

2.2     Alat dan Bahan
1.        Thermometer tanah
2.        Thermometer tanah tipe bengkok
3.        Hygrometer
4.        Anemometer
5.        Hand Anemometer
6.        Moisture meter
7.        Psikrometer tipe sling
8.        Termohigrograf
9.        Kertas pias
10.    Thermometer
11.    Sangkar cuaca
12.    Psikrometer standar
13.    Panci Evaporasi
14.    Alat penangkar hujan
15.    AWS(Automatic Weather Station)




2.2     Prosedur Praktikum
1.        Dosen Pengampu memegang dan menjelaskan nama serta fungsi dari alat-alat pengukur cuaca.
2.        Memperhatikan alat – alat pengukur cuaca yang dijelaskan oleh dosen pengampu.
3.        Mencatat cara kerja dari masing – masing alat ukur cuaca
4.        Mengambil gambar masing – masing alat pengukur cuaca






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil
No
Nama Alat
Gambar
Fungsi
1
Termomerer Tanah






mengukur suhu tanah.




2
Termometer Tanah Tipe Bengkok



muai air raksa
3
Hygrometer










mengukur tingkat kelembapan pada suatu tempat

4
Anemometer





mengukur kecepatan angin
5
Hand Anemometer




Mengukur kecepatan angin




6
Moisturemeter





mengukur jumlah kandungan air yang terdapat pada zat.


7
Psikrometer Tipe Sling






Mengukur kelembapan nisbi udara sesaat
8
Termohigrograf





mencatat otomatis temperatur sebagai fungsi waktu.



9
Kertas pias

pencatat lamanya waktu intesitas cahaya matahari yag terpancar
10
Termometer maximum-minimum









untuk mengukur suhu maksimum dan minimum dalam jangka waktu tertentu.
11
Sangkar cuaca









tempat alat-alat pengukur cuaca tertentu, agar tehindar dari sinar matahari langsung dan pengaruh lingkungan.

12
Psikrometer Standar







Pengukur Suhu Udara dan Kelembaban Udara




13
Panci Evaporasi





untuk mengukur evaporasi




14
Alat Penangkar Hujan Hellman






untuk mengukur jumlah curah hujan yang turun kepermukaan tanah



15







Automatic Weather Station
 ( AWS )
untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis




3.2     Pembahasan
Praktikum kali ini menggunakan alat-alat yang digunakan untuk kegiatan pengamatan iklim.Alat-alat tersebut memiliki bagian-bagian, prinsip kerja, serta prosedur kerja dalam setiap penggunaannya. Berikut adalah penjelasan :

1.      Thermometer Tanah
v  Fungsi :  sebuah termometer yang khusus dirancang untuk mengukur suhu tanah. Alat ini berguna pada perencanaan penanaman dan juga digunakan oleh para ilmuwan iklim, petani, dan ilmuwan tanah. Suhu tanah dapat memberikan banyak informasi yang bermanfaat, terutama pemetaan dari waktu ke waktu.
v  Bagian-bagian : a. Batang thermometer, b. Kaca pelindung atau tutup,
c. Jarum  penunjuk suhu,  d. Skala
v  Ciri-ciri :pada bagian skala dilengkungkan, namun ada juga yang tidak dilengkungkan. Hal ini dibuat untuk memudahkan dalam pembacaan termometer dan menghindari kesalahan paralaks.
v  Cara keja : Thermometer tanah ini tergolong semi otomatis, sebab setelah kaki dari thermometer ini terbenam dalam tanah maka dengan sendirinya keadaan suhu tanah akan dapat dilihat pada layar yang ditunjukan oleh jarum penunjuk.

2.      Thermometer tanah tipe bengkok
v  Fungsi : Mengukur suhu permukaan tanah dengan jeluk 20 cm.
v  Bagian-bagian :
a.      Reservoir untuk jeluk tanah 20 cm
b.      Pipa kapiler berisi raksa
v  Satuan :
a.. Satuan Alat : ºC
b. Satuan Pengukuran : ºC
c.  Ketelitian Alat : 1ºC
d.  Prinsip kerja : muai air raksa
v  Cara kerja : Tanah digali pada kedalaman yang diinginkan (20 cm) setelah ujung reservior dimasukan kenaikan suhu tanah menyebabkan air raksa memuai dan akan mengisi kolom hampa udara sampai pada skala tertentu.
v  Kelebihan : mudah dilihat skalanya setelah ditanam karena bentuknya bengkok. Kekurangannya yaitu harus menggunakan bor untuk melubangi tanah 20 cm karena hanya dapat mengukur pada kedalaman tersebut. Penggunaan bor ini dimaksudkan karena alat bisa rusak jika dipaksa masuk ke dalam tanah secara lanngsung.

3.       Hygrometer
v  Fungsi: sejenis alat untuk mengukur tingkat kelembapan pada suatu tempat
v  Keterangan:
a.      Jarum penunjuk skala suhu,
b.      Jarum penunjuk skala kelembaban,
c.       Spiral dwi logam,
d.      Spiral benda  higroskopis,
e.       Satuan alat derajat celcius dan %
f.        Satuan pengukuran derajat celcius dan %
g.      Ketelitian alat 1 % dan 5 C:

v  Cara kerja : dengan menggunakan dua thermometer
a.      saat pengamatan alat haruster lindung dari pengaruh sinar matahari secara langsung dan tetesan air hujan.
b.      suhu udara dan kelembaban dibaca langsung pada alat.

4.      Anemometer
v  Fungsi : perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam sebuah stasiun cuaca
v  Bagian-bagian : a. Mangkuk.  b. Petunjuk arah mata angin,
                  c. Generator sinyal atau alat penghitung pencatatan.
v  Cirri-ciri : Dipasang pada lapangan terbuka diketinggian   10 meter di atas tanah atau ditempatkan sedimikian rupa sehingga tidak mendapat pengaruh dari penghalang di sekitarnya.
v  Pemeliharaan : Di tempatkan pada tempat yang aman dan longgar agar komponen-komponennya terutama baling-balingnya tidak mudah putus karena sempitnya ruangan.
v  Cara kerja : Alat dipasang pada tiang/menara  dengan ketinggian 0,5 m, 2 m, atau 10 m sesuai dengan masing-masing penggunaan.
v  Pemasangan alat : Tiang anemometer dipasang menggunakan 3 buah labrang/ kawat penahan tiang, dimana salah satu kawat/labrang berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar labrang membentuk sudut 1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang anemometer merupakan faktor terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal ini mengingat tiang anemometer memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir.

5.      Moistumeter
v  Fungsi : mengukur jumlah kandungan air yang terdapat pada zat. Alat ini juga bisa dipakai untuk mengukur tingkat kelembaban zat. Dari hasil pengukuran yang dilakukan, diharapkan akan bisa diketahui apakah bahan sudah siap untuk dipakai atau belum.
v  Prinsip kerja :
a.      Termogravimetri
Cara ini dilakukan dengan dua teknik utama yakni pemanasan
b.      Konduktometri
Prinsip atau cara inilah penimbangan.
v  Selisih berat sebelum pemanasan dan setelah pemanasan merupakan nilai dari kandungan air yang ditentukan tersebut. yang dilakukan oleh alat moisture meter tersebut, yakni salah satu teknik pengukuran kadar air dengan teknik elektrik, dimana pengukura didasarkan pada konduktivitas atau hantaran listrik. Kadar air akan berbanding linear terhadap kapasitas listrik yang diukur. Hantaran listrik tersebut akan ditangkap oleh alat yang dinamakan detektor

6.      Hand Anemometer
v  Fungsi : Mengukur kecepatan angin
v  Bagian-bagian:
a.      Mangkok anemometer
b.      Speed meter
c.       Skala beauford
d.      Tangkai pegangan tangan
v  Satuan:
a.      Satuan Alat : m/s
b.      Satuan Pengukuran : m/s
c.       Ketelitian Alat : 1 m/s
v  Prinsip kerja : GGL induksi
v  Cara kerja : Angin menggerakkan anemometer (motor yang ada dalam kumparan) sehingga menimbulkan arus listrik yang akhirnya menimbulkan gerakan jarum penunjuk skala.

7.      Psikrometer Tipe Sling
v  Fungsi : Mengukur kelembapan nisbi udara sesaat
v  Keteranagn :
a.      Fungsi : Satuan alat : oC
b.      Satuan Pengukuran : %
c.       alat : 0,2oC
v  Prinsip Kerja : Prinsip termodinamika/adiabatik
v  Bagian – bagiannya :
a.      Termometer bola basah (TBS) menunjukan suhu udara
b.      Termometer bola kering (TBK) untuk mencatat kelembaban udara dengan bantuan Table.
c.       Pegangan
v  Cirri-ciri; Memiliki ketelitian yang cukup tinggi dibanding psikometer lain, Mudah dioperasikan karena relatif sederhana, Perhitungannya agak rumit karena harus menghitung temperatur pada TBB danTBK dulu
v  Cara Kerja : Pembacaan dilakukan dengan membaca nilai suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola kering dan bola basah, kemudian hitung selisih suhu antara bola kering dan bola basah. Nilai selisih menghasilkan persentase kelembaban udara dengan bantuan tabel kertas pias. Pada pengamatan pias harus dicatat tanggal dipasang dan diangkat beserta jamnya. Titik baca pias adalah perpotongan garis lurus dengan garis vertical (garis pembagi skala waktu) dan nilai suhu serta kelembaban dapat dilihat pada garis horizontal.

8.      Termohigraph
v  Fungsi: mencatat otomatis temperatur sebagai fungsi waktu.
v  Keterangan:
a.      Satuan alat : oC dan %
b.      Satuan Pengukuran : oC dan %
c.       Ketelitian alat : 5 oC (termometer) dan 0,5% (higrometer)
v  Bagian – bagiannya :
a.      Lempeng dan logam bimetal / sensor kuda,
b.      Rambut / sensor rambut ekor kuda,
c.       Sistem tuas higrograf 
d.      Sistem tuas termohigrograf 
e.       Pena
f.        Silinder kertas grafik
v  Ciri-Ciri: Thermograph ini adalah logam panjang yang terdiri dari 2 bagian, kuningan dan invar.
v  Cara pemasangan: Bentuk bimetal merupakan spiral. Terpasang pada sumbu horizontal dan diluar kotak Thermograph. Satu ujung bimetal dipasang pada kotak dengan sekrup penyetel halus, sehingga letak pena dapat diatur. Ujung lain dihubungkan ketangkai pena melalui sumbu horizontal sehingga dapat menimbulkan track/ rekaman pada kertas pias yang berputar 24 jam per rotasi.
v  Cara kerja: Sebelum dipakai, thermograph harus dikalibrasi terlebih dahulu.
v  Pemeliharaan: Alat ini harus ditempatkan dalam sangkar apabila dipakai untuk mengukur atmospher.

9.      Kertas Pias
v  Fungsi : pencatat lamanya waktu intesitas cahaya matahari yag terpancar.
v  Bagian-bagian:
a.      Kertas Pias Lurus adalah alat pencatat intensitas cahaya matahari pada awal bulan Maret  sampai pertengahan April.
b.      Kertas Pias Pendek adalah ala pencatat instensitas cahaya matahari pada pertengahaan Oktober sampai akhir Februari.
c.       Kertas Pias Panjang adalah alat pencatat intensitas cahaya matahari pada pertengahan April – akhir Agustus.
v  Cara kerja: Lamanya Penyinaran matahari dicatat dnegan jalan memusatkan sinar matahari melalui bola kristal hingga fokus matahari tersebut tepat mengenai kertas pias yang khusus sehingga meninggalkan jejak pias pada kertas.

10.  Thermometer Maksimum dan Minimum
v  Fungsi :untuk mengukur suhu maksimum dan minimum dalam jangka waktu tertentu.
v  Bagian-bagian : a. Skala,  b. Suhu maksimum, c. Suhu minimum d.Jarum perak,  e. Alkohol,   f. Air raksa
v  Cirri-ciri ; Ciri khas dari termometer ini adalah terdapat penyempitan pada pipa kapiler di dekat reservoir
v  Cara kerja : bekerja dengan adanya katup pada leher tabung dekat bohlam. Saat suhu naik, air raksa didorong ke atas melalui katup oleh gaya pemuaian. Saat suhu turun, air raksa tertahan pada katup dan tidak dapat kembali ke bohlam membuat air raksa tetap di dalam tabung. Pembaca kemudian dapat membaca temperatur maksimum selama waktu yang telah ditentukan. Untuk mengembalikan fungsinya, termometer harus diayun dengan keras.
v  Pemeliharaan : Thermometer disimpan dengan baik dan hati-hati jikalau tidak dipergunakan dan sesekali dilap atau dibersihkan dari debu maupun kotoran.

11.  Sangkar Cuaca atau Sangkar meteorology
v  Fungsi: sebagai tempat alat-alat pengukur cuaca tertentu, agar tehindar dari sinar matahari langsung dan pengaruh lingkungan.
v  Ciri-ciri: Sangkar ini terbuat dari kayu jati yang dicat warna putih, bentuknya segi 4 , dengan setiap dinding diberi jalusi berlapis dua, dan juga atapnya terbuat dari papan kayu , semua itu maksudnya agar didalam sangkar ada sirkulasi udara.
v  Didalam sangkar Meteorologi dipasang alat-alat seperti Thermometer bola kering, Thermometer bola basah, Thermometer maximum, Thermometer minimum, dan Evaporimeter jenis piche. Pada stasiun meteorologi pertanian dan klimatologi dipasang Evaporometer jenis Keshner tersendiri.

12.  Psikrometer Standar
v  Fungsi :  Pengukur Suhu Udara dan Kelembaban Udara
v  Satuan : Suhu Derajat Celcius, Kelembaban dalam Persen ( %).
v  Bagian-bagian :
a.      Thermometer Bola Kering (TBK): tabung air raksa dibiarkan kering sehingga akan mengukur suhu udara sebenarnya.
b.      Thermometer Bola Basah (TBS): tabung air raksa dibasahi agar  suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air dapat berkondensasi.
c.       Thermometer Maximum: Thermometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat tempat/ tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara mendingin. Untuk mengembalikan air raksa ketempat semula, thermometer ini harus dihentakan berkali-kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet.
d.      Thermometer Minimum: Thermometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih tinggi dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum. Prinsip kerja thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang (indeks) pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan indeks ikut tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap pada posisi dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus miring sekitar 20-30 derajat, dengan posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah berada diposisi bawah (suhu minimum).

v  Pemeliharaan : Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan sampai kotor.Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang.Dua minggu atau sebulan sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor.Musim kemarau pembasah cepat sekali kotor oleh debu.Air pembasah harus bersih dan jernih.Pakailah air bebas ion atau aquades.




13.   Evaporimeter Panci Terbuka
v  Fungsi : untuk mengukur evaporasi. Makin luas permukaan panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya.
v  Bagian-bagian:
a.      Panci Bundar Besar
Terbuat dari besi yang dilapisi bahan anti karat. Panci ini mempunyai garis tengah 122 cm dan tingginya 25,4 cm.
b.       Hook_Gauge
Suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook gauge buatan Perancis mempunyai micrometer yang dibagi menjadi 20 bagian. Dalam satu bagian menyatakan perubahan tinggi jarum 0,1 mm, berarti untuk satu putaran penuh, perubahan tinggi jarum sebanyak 2mm
c.       Still_well
Bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki. Pada tiap kaki terdapat skrup untu menyetel/ mengatur kedudukan bejana agar letaknya horizontal. Bejana digunakan selain untuk tempat meletakkan hook gauge, juga membuat permukaan air dalam bejana menjadi tenang dibandingkan dengan pada panci, sehingga penyetelan ujung jarum dapat lebih mudah dilakukan.
d.      Thermometer air dan thermometer maximum/ minimum
e.        Cup Counter Anemometer
Alat ini dipasang sebelah selatan dekat pusat panci, dengan mangkok-mangkoknya sedikit lebih tinggi.
f.        Pondasi/ Alas
Dibuat dari kayu dicat sehingga tahan terhadap cuaca dan rayap. Bagian ata kayu dicat putih untuk mengurngi penyerapan radiasi sinar matahari.
g.       Penakar hujan biasa
Untuk memperoleh data curah hujan, yang digunakan dalam menentukan penguapan pada hari-hari hujan. Penakar hujan dipasang +2m dari evaporimeter.

14.  Alat Penakar Hujan Hellman
v  Fungsi  :  untuk mengukur jumlah curah hujan yang turun kepermukaan tanah per satuan luas
v  Cara pemasangan : dipasang dengan cara disekrup pada alas papan yang dipasang pada pondasi beton (lihat gambar), sehingga tinggi permukaan. corongnya dari permukaan tanah adalah 140 Cm. Letak permukaan corong penakar, dan dasar tempat meletakkan tabung berpelampung harus benar-benar datar (waterpas).
v  Cara kerja:
a.       Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta tangkainya terangkat (naik keatas).
b.      Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung.
c.       Gerakkan pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga per.
d.      Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada pias.
e.       Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus vertikal.
f.         Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dihitung/ditentukan dengan menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias.
v  Cara pemeliharaan:
a.       Corong penakar hujan harus selalu diperiksa dan dibersihkan dari debu / kotoran agar tidak menyumbat.
b.      Pena harus tetap bersih bila rusak segera diganti, apabila penanya jenis catridge agar diganti kalau sudah tidak nyata pencatatannya. Pemasangan kembali pena tidak boleh terlalu keras menekan pias, karena akan mengganggu kepekaan dan ketelitian alat.
c.       Apabila gerakan pelampung saat naik dan turun tidak lancar atau tersendat, bersihkan tangkai pelampung dan periksa / bersihkan pipa gelas siphon serta tabung tempat pelampung dari kotoran / lumut yang melekat.

15.  Automatic Weather Stations (AWS)
v  Fungsi : suatu peralatan atau sistem terpadu yang di disain untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar pengamatan menjadi lebih mudah.
v  Bagian-bagian : AWS ini umumnya dilengkapi  dengan sensor, RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian lainnya.
Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer.
v  Alat ini dapat mengamati dan mencatat unsur - unsur cuaca, yaitu Suhu udara, Suhu tanah dengan kedalaman 10 cm dan 20 cm, Kelembaban udara, Titik embun, Tekanan udara, Arah dan kecepatan angin, Curah hujan, dan Radiasi matahari. Waktu pengamatan dilakukan selama 24 jam.
v  Pemeliharaan :
a.       Di atas tanah yang tertutup rumput pendek atau pada area lokal reperesentatif
b.      Sensor-sensor meteorologi harus diletakkan jauh dari pengaruh luar seperti bangunan dan pohon (jarak tergantung daripada variabel jenis penghalang).
c.       Sensor harus diletakkan pada ketinggian yang sama (dan ditempatkan) sesuai dengan peralatan konvensional.
d.      Jaga kestabilan terhadap lokasi (perubahan tumbuh-tumbuhan, bangunan, dll)


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1     Kesimpulan
          Kesimpulan yang di dapat dari praktikum kali ini :
1.        Setiap peralatan unsur iklim/cuaca memiliki cara kerja yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi masing-masing alat ukur dengan tata letaknya.
2.        Pemasangan alat ukur umumnya dilakukan/dipasang di tempat terbuka.
3.        Cara kerja tiap alat ukur akan menghasilkan data pencatatan yang akurat, bila penggunaannya dilakukan dengan baik dan benar tanpa kesalahan.
4.        Cara pengamatan peralatan ukur unsur iklim/cuaca disesuaikan dengan kerja masing-masing alat ukut tersebut

4.2  Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan dalam praktikum ini antaraadalah:
         1.    Untuk peralatan agar lebih dilengkapi sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar dan mahasiswa bisa mengenal, memahami lebih jauh dan mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi tentang alat – alat praktikum tersebut.
         2.    Melakukan pegamatan haruslah dengan teliti supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.



Daftar Pustaka
Anonim, 2013. Pengenalan Alat-Alat Klimatologi. Di unduh dari  https://onoe21.wordpress.com/laporan-agroklimatologi-tentang-stasiun-  klimatologi/pengenalan-alat-alat-klimatologi/  (diakses pada 01 oktober 2015)

Harni,2015 . Laporan Praktikum Klimatologi Pengenalan Alat-Alat Klimatologi

Prawiroardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung,.  Di unduh dari http://ries091.blogspot.co.id/2013/12/laporan-praktikum-acara-i-pengenalan_6590.html (diakses pada 01 oktober 2015)
Riski, 2014. Pengenalan Stasiun Dan Peralatan Di Stasiun Klimatologi. Di unduh dari http://riskiramadhonalubis.blogspot.co.id/2014/10/v-behaviorurldefaultvmlo.html (diakses pada 01 oktober 2015)
Setiawan, A. C. 2003. Otomatisasi stasiun cuaca untuk menunjang kegiatan. Di unduh dari  http://harnisuci06.blogspot.co.id/2015/01/laporan-klimatologi-pengenalan-alat.html  (diakses pada 01 oktober 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar