LAPORAN PRAKTEK LAPANG
DASAR-DASAR AGRONOMI
TEKNIK
BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK DI PAAL MERAH
KOTA
JAMBI
Disusun Oleh:
MEIDA PANE (D1B014025)
DOSEN PRNGAMPU
Dr. Ir. AHMAD RIDUAN, M.Si
Ir. SARMAN S, M.P.
Dr. Ir. RAINIYATI, M.Si
PROGRAM STUDI
AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Mata kuliah
Dasar-Dasar Agronomi adalah mata kuliah yang berisikan prinsip-prinsip dasar
pengusahaan tanaman, pengenalan faktor-faktor produksi dan pengaruhnya terhadap
tumbuhan tanaman. Kegiatan praktikum
diselenggarakan sebagai sarana untuk melengkapi dan mendukung pemahaman teori
yang diberikan dalam perkuliahan.
Istilah umum pertanian berarti kegiatan menanami tanah
dengan tanaman yang nantinya menghasilkan sesuatu yang dapat dipanen, dan
kegiatan pertanian merupakan campur tangan manusia terhadap tetumbuhan asli dan
daur hidupnya.
Dalam pertanian modern campur tangan ini semakin jauh dalam
bentuk masukan bahan kimia pertanian, termasuk: pupuk kimia, pestisida dan
bahan pembenah tanah lainnya. Bahan-bahan tersebut mempunyai peranan yang cukup
besar dalam meningkatkan produksi tanaman.
Dalam perkembangan produksi pertanian yang ada saat ini
adalah pertanian intensif dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti
pemberian pupuk kimia. Hal ini terjadi dengan alasan akan semakin meningkatkan
produksi pertanian dengan waktu yang lebih maksimal. Padahal adakalanya tidak
meningkatkan produksi pertanian yang disebabkan oleh degradasi kesuburan lahan
pertanian karena pemberian jenis pupuk dan dosis yang tidak rasional. Degradasi
kesuburan tanah ini dapat dilihat dari rendahnya kandungan bahan organik dan
unsure hara yang ada di dalam tanah. Sehingga membuat sifat fisik, kimia dan
biologi tanah menjadi kurang baik.
Hal ini tidak dapat dibiarkan dan diperlukan langkah yang
lebih nyata agar dapat terus mempertahankan produksi pangan yang ada. Dalam hal
ini munculah sistem pertanian organik, Sejak tahun
1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu
mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk
organik.
Pertanian
organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang
mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami,
sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan
berkelanjutan.
Program Dinas
Pertanian Kota Jambi mengembangkan pertanian organik terutama untuk komoditi
sayuran. Sayuran merupakan bahan pangan yang berasal dari tumbuhan dengan kadar
air dan serat yang tinggi. Sayuran banyak mengandung vitamin dan mineral yang
dibutuhkan oleh tubuh. Di negara kita Indonesia yang merupakan daerah beriklim
tropis, disini kita dapat membudidayakan tanaman sayuran sepanjang tahun karena
tersedianya sinar matahari yang cukup. Tanaman sayuran dapat tumbuh dengan baik
di berbagai daerah di Indonesia.
Pengembangan
pertanian organik terutama untuk komoditi sayuran selaras, dengan meningkatnya
kemajuan pembangunan Kota Jambi sebagai Pemerintahan Kota dan Ibukota Provinsi
Jambi yang diindikasikan dengan peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan
masyarakat semakin baik. Sejalan dengan Program tersebut, Prima Tani yang
secara langsung menerapkan konsep baru diseminasi di wilayah sentra produksi
berdasarkan kesesuaian agroekosistem dan kebutuhan inovasi teknologi oleh
petani. Tujuan pengkajian untuk mengetahui teknologi budidaya dan analisis
komparatif usahatani sayuran ditingkat petani. Pengkajian dilaksanakan pada
kawasan Prima Tani Kelurahaan Paal Merah Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi, pada
tiga kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan “Pandu Tani”. (Anonim,2009)
Salah satu ketua Gapoktan di Paal Merah Kota Jambi
adalah pak Asrori yang mengembangkan pertanian organik pada komoditi sayuran.
Ada beberapa komoditi sayuran yang umum di budidayakan petani yaitu : kangkung,
bayam, selada, seledri, kemangi, kacang panjang dan pakchoi. Hasil pengkajian
menunjukkan bahwa, teknologi budidaya sayuran ditingkat petani telah
menggunakan pupuk organik, sedikit pupuk kimia sebagai starter dan sebagian petani
sudah menggunakan pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit.
Pertanian
organik ini dapat membawa keuntungan besar bagi para petani sayur. Contohnya
pada pupuk organik yang telah diperkenalkan pada tahun 2003 oleh kelompok tani
sayur di Paal Merah telah mendapat sertifikasi dari Padang. Pada Era tahun 2012
ada perubahan sertifikasi yang mengatasnakan orang- perorang yang dulunya
perkelompok.
Melalui praktik Lapang
ini mahasiswa diharapkan akan memperoleh
pengetahuan tentang melakukan kegiatan mulai dari pengenalan tanaman,
prinsip-prinsip penggunaan sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), penanaman
benih, pembibitan tanaman, pemeliharaan tanaman yang meliputi penyulaman,
penyiraman, pemupukan, pengendalian hama penyakit dan pengendalian gulma serta
pemanenan secara organik. Memperoleh wawasan kegiatan budidaya sebagai salah
satu subsistem dari sistem agribisnis.
1.2 Tujuan Praktikum
1.
Untuk mengetahui dan mempelajari teknik-teknik budidaya
tanaman organik.
2.
Untuk mengetahui teknik budidaya sayur di Paal Merah Kota
Jambi
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1
Defenisi budidaya
Usaha Budidaya Tanaman adalah serangkaian kegiatan
pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam nabati melalui upaya manusia yang
dengan modal, teknologi, dan sumber daya lainnya menghasilkan barang guna
memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik. (Anonim,2010)
Pelaku
Usaha Budidaya Tanaman yang selanjutnya disebut pelaku usaha adalah perorangan
warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia
dan berkedudukan di Indonesia yang mengelola usaha budidaya tanaman.
2.2
Pengertian Pertanian Organik
Ada
dua pemahaman tentang pertanian organik yaitu dalam arti sempit dan dalam arti
luas. Pertanian organik dalam artian sempit yaitu pertanian yang bebas dari
bahan – bahan kimia. Mulai dari perlakuan untuk mendapatkan benih, penggunaan
pupuk, pengendalian hama dan penyakit sampai perlakuan pascapanen tidak
sedikiti pun melibatkan zat kimia, semua harus bahan hayati, alami. Sedangkan
pertanian organik dalam arti yang luas, adalah sistem produksi pertanian yang
mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan
kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh
dan aditif pakan). Dengan tujuan untuk menyediakan produk – produk pertanian
(terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta
menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya.
Konsep awal pertanian organik yang ideal adalah
menggunakan seluruh input yang berasal dari dalam pertanian organik itu
sendiri, dan dijaga hanya minimal sekali input dari luar atau sangat dibatasi.
(FG Winarno 2002 dalam Prawira,2007)
2.3 Prinsip- Prinsip Pertanian
Organik
Pertanian organik merupakan jawaban atas revolusi hijau yang
digalakkan pada tahun 1960-an dalam rangka peningkatan produksi pangan telah
menyebabkan berkurangnya kesuburan tanah dan kerusakan lingkungan sebagai
akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang kurang mempertimbangkan
keseimbangan ekosistem. Eksploitasi lahan sawah secara intensif yang
berlangsung secara terus menerus dan berlangsung bertahun-tahun telah
mengakibatkan penurunan kesuburan dan sifat fisik maupun kimia tanah.
Pemberian pupuk kimia (anorganik) secara terus menerus untuk mengejar tingkat
produktivitas, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya memperbaiki kondisi fisik
tanah melalui penambahan bahan organik menyebabkan kandungan bahan organik
tanah menurun, tanah menjadi kompak, kerusakan struktur tanah dan aerasi tanah
berkurang yang mengakibatkan penurunan kemampuan tanah dalam menyimpan dan
melepaskan hara dan air bagi tanaman sehingga mengurangi efisiensi penggunaan
pupuk dan air irigasi, dan kondisi ini dikenal sebagai tanah sakit.
(Simantri,2014)
Pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama dikenal, sejak
ilmu bercocok tanam dikenal manusia, dimana semuanya dilakukan secara
tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alamiah. Pertanian organik
modern didefinisikan sebagai sistem budidaya pertanian yang mengandalkan
bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintettis. Pertanian
organik adalah sistem pertanian yang holistic yang mendukung dan mempercepat
biodiversity, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Filosofi
pertanian organik sesungguhnya merupakan himbauan moral untuk berbuat kebajikan
pada lingkungan sumberdaya alam dalam melakukan praktek pertanian dengan
mempertimbangkan 3 (tiga) aspek, yaitu :
a.
Aspek Ekonomi.
Dalam sistem pertanian organik, selalu mempertimbangkan
efisiensi terhdap penggunaan sumberdaya, efisiensi terhadap penggunaan bahan
input eksternal, meminimalkan biaya pengobatan dan meningkatkan
pendapatan/nilai tambah.
b.
Aspek Ekologi
Dalam usahatani organik, selalu diupayakan semaksimal
mungkin memanfaatkan input lokal, meminimalkan polusi dari proses kegiatan
produksi, memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah, menyeimbangkan
keanekaragaman biologi, mengedepankan usahataniberkelanjutan, konservasi
sumberdaya alam dan berupaya menjaga keseimbangan ekosistem.
c.
Aspek Sosial.
Dalam usahatani organik selalu berupaya meningkatkan
kepekaan yang lebih baik terhadap lingkungan, penghargaan terhadap budaya
lokal, pemenuhan kebutuhan produk yang sehat dan aman dikonsumsi, mengutamakan
lingkungan kerja yang aman dan sehat serta menjaga keharmonisan sosial di
pedesaan.
Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan
produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan
produsen dan konsumen serta tidak merusak lingkungan. Dalam prakteknya
pertanian organik dilakukan dengan cara, antara lain :
- Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika (GMO = Genetikally Modified Organisme).
- Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis, pengendalian gulma, hama dan penyakit dilakukan dengan cara mekanis, biologis, rotasi tanaman dan menggunakan pestisida organik.
- Menghindari penggunaan zat pengatur tumbuh (growth regulator) dan pupuk kimia sintetis. Kesuburan dan produktivitas tanah ditingkatkan dan dipelihara dengan menambah residu tanaman, pupuk kandang dan bantuan mineral alami, serta penanaman legum dan rotasi tanaman.
- Menghindari penggunaan hormon tumbuhan dan bahan aditif sintetis dalam makanan ternak.
Sesuai dengan definisi dan tujuan
dari pelaksanaan pertanian organik, maka dalam pengelolaan pertanian
organik harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
- Prinsip kesehatan : pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan dan manusia serta Bumi sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
- Prinsip ekologi : pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan, bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklun ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan, dimana produksi didasarkan atas proses dan daur ulang ekologis. Siklus ini bersifat universal tetapi dalam opersionalnya bersifat lokal sepesifik.
- Prinsip keadilan : pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
- Prinsip perlindungan : pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Organik
Sistem pertanian organik mempunyai kelebihan antara
lain: tidak menggunakan pupuk maupun pestisida
kimia, sehingga.tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik
pencemaran tanah, air, maupun udara, serta produknya
tidak mengandung racun; tanaman organik
mempunyai rasa yang lebih
manis dibandingkan tanaman non-organik;
dan harga jual produk tanaman organik lebih mahal.
Sedangkan kekurangan dari sistem pertanian organik antara
lain: kebutuhan tenaga kerja lebih banyak, terutama untuk
pengendalian hama dan penyakit karena pada umumnya pengendalian hama dan
penyakit masih dilakukan secara manual sehingga apabila menggunakan pestisida
alami, maka perlu dibuat sendiri karena pestisida ini belum ada di pasaran; dan
penampilan fisik tanaman organik kurang bagus (misalnya berukuran
lebih kecil dan daun berlubang-lubang) dibandingkan dengan tanaman yang
dipelihara secara non-organik.
Sehingga, dalam bercocok tanam perlu
diperhatikan seperti varietas, teknologi bercocok tanam hingga aspek – aspek produksi pertanian lainnya. Dengan demikian, pertanian
organik merupakan suatu teknologi yang pada penerapannya
kita menyesuaikan dengan lingkungan, agar ekosistem tetap
berjalan seperti apa adanya secara alami tanpa harus memutuskan salah satu mata
rantai makhluk hidup.
Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus
bebas dari bahan kimia sintetis (pupuk dan pestisida). Terdapat dua pilihan
lahan: (1) lahan pertanian yang baru dibuka atau, (2) lahan pertanian intensif
yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian organik. Lama masa konversi
tergantung sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida, dan jenis tanaman. (Aldi,2012)
2.5
Tanaman Sayur
Sayuran
merupakan bahan pangan yang berasal dari tumbuhan dengan kadar air dan serat
yang tinggi. Sayuran banyak mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh
tubuh. Sayuran
adalah semua jenis tanaman atau bagian tanaman yang bisa diolah menjadi
makanan. Beberapa jenis sayuran bisa dimakan begitu saja atau secara mentah
sedangkan sebagian lainnya hanya bisa dikonsumsi setelah dimasak terlebih
dahulu. Makanan ini mengandung banyak nutrisi penting untuk kesehatan tubuh
seperti karbohidrat, garam, mineral, vitamin, lemak, protein,
dll.(Polapelo,2012)
Sayuran dapat dikategorikan menjadi delapan jenis
berdasarkan bagian tubuh tumbuhan yang digunakan sebagai makanan oleh manusia,
yaitu sebagai berikut:
a. Bunga
(Flower Vegetables)
Bagian tumbuhan yang bisa
dimanfaatkan sebagai sayur adalah bagian bunganya. Sayuran bunga berkualitas
baik adalah kembang atau bunga dengan susunan kompak, memiliki warna segar atau
cerah, ukurannya besar, serta tidak terdapat cacat atau bekas digigit hama. Beberapa
contoh bunga tumbuhan untuk sayuran adalah bunga kol, brokoli, dan bunga turi.
b. Buah
(Fruit Vegetables)
Untuk jenis sayuran ini, bagian yang
dimanfaatkan sebagai sayur adalah pada buahnya. Sayuran buah berkualitas bagus
adalah buah dengan tingkat umur cukup atau tidak terlalu tua dan tidak terlalu
muda. Buah sebaiknya segar dan memiliki warna cerah. Selain itu, buah
berkualitas baik memiliki ukuran besar dan tidak ada bagian yang busuk atau
rusak. Beberapa contoh jenis sayuran buah adalah tomat, cabai, jipang, oyong,
terong, timun, paprika.
c. Polong
(Legume Vegetables)
Sayuran polong adalah jenis tanaman
yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi di bagian polongnya. Walaupun begitu,
beberapa jenis sayur tersebut kulitnya juga bisa ikut dikonsumsi. Sayur polong berkualitas
bagus umurnya tidak tua, benjolan bijinya belum nampak, serta kulit buahnya
masih lurus. Selain itu warna buahnya terlihat segar dan tidak ada bagian yang
rusak. Contoh sayur jenis polong adalah buncis, kacang panjang, kapri, kedelai
dan kacang merah.
d. Daun (Leaf
Vegetables)
Jenis sayuran ini bagian yang dapat
dikonsumsi adalah bagian daunnya. Daun berkualitas bagus adalah bagian daunnya
utuh, tidak berlubang, dan tidak busuk. Pilihlah bagian batang dan daun
berwarna segar dan masih muda. Selain itu bagian daunnya juga sebaiknya kompak
dan lebar. Contoh sayur-sayuran daun di antaranya adalah bayam, kubis, kol,
sawi, lettuce, kangkung, daun bawang.
e. Batang
(Stem Vegetables)
Jenis sayuran ini, bagian tumbuhan
yang dimanfaatkan atau dikonsumsi adalah bagian batangnya. Saat memilih stem
vegetables, sebaiknya pilihlah batang yang masih muda, berwarna muda dan cerah,
dan tidak ada cacat atau busuk. Beberapa contoh stem vegetables di antaranya
adalah rebung, asparagus, adas, kecambah, batang seledri, paku, dan artichoke.
f. Umbi (Root
Vegetables)
Root vegetables adalah sayuran
berupa umbi-umbian. Umbi itu sendiri adalah akar yang menggembung. Jenis
sayuran ini biasanya banyak mengandung karbohidrat. Walaupun demikian di
dalamnya juga masih terdapat berbagai nutrisi penting lainnya. Saat memilih
root vegetables, piluhlah umbih yang cukup umur dan ukurannya besar. Selain
itu, pastikan tidak tumbuh tunas dan bagian luarnya tidak ada yang membusuk
atau digigit hama. Beberapa contoh root vegetables adalah kentang, wortel, ubi
kayu, ubi jalar, lobak, radish, bit, dan talas.
g. Umbi lapis
(Bulb Vegetables)
Jenis sayuran ini sebenarnya hampir
sama dengan root vegetables. Yang membedakan adalah struktur umbinya yang
berlapis-lapis. Bulb vegetables yang bagus memiliki lapisan umbi yang tebal dan
berukuran besar. Selain itu, pilih yang sudah berumur, tidak busuk, dan tidak
ada bagian yang rusak baik karena digigit hama atau karena faktor lainnya.
Contoh bulb vegetables adalah bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Metoda
Budidaya Pertanian Organik
Praktikum ini dilakukan di kebun Pak Asrori
yang bertempat di Paal Merah, Kota Jambi. Adapun jenis komiditi yang di
budidayakan antara lain , Kangkung, Bayam Putih, Bayam Kujang/hijau, Seledri, Sawi , Sawi Pakcoy, cabe dan Selada. Adapun yang akan dibahas adalah
teknik budidaya pertanian oraganik yang meliputi, Pra Pengolahan lahan,
Pengolahan Lahan atau Tanah, Penanaman, Pemiliharaan Tanaman , Upaya
Peningkatan Produksi Tanaman , Panen dan Pasca panen.
3.1.1 Pra Pengolahan lahan
a. Persiapan
bibit/benih
Dalam menentukan benih berkualitas
dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu :
·
Fisik (Ukuran benih seragam, Bebas jamur/hama gudang, Daya
kecambah baik)
·
Morfologis (sifat yang khas,tanaman seragam, tahan cekaman
lingkungan)
·
Pertumbuhan
(Pertumbuhan awal/vigor kokoh, Tahan hama dan penyakit, Tanggap terhadap
pemupukan, Tahan rebah karena memiliki perakaran yang kuat)
b.
Seleksi bibit/benih
Pemilihan
benih dapat dilakukan dengan cara :
·
Siapkan air atau air
hangat secukupnya
·
Masukkan benih ke dalam
air atau air hangat.
·
Benih yang tenggelam
merupakan benih yang baik, yang terapung silahkan dibuang.
c.
Pelaksanaan penyemaian
Pada tanaman tertentu membutuhkan
pembibitan sebelum ditanam di lahan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan . Persemaian dengan bedengan
dilakukan dengan cara mengolah tanah sampai gembur. Buatlah bedengan dengan
lebar 1 meter, tinggi dan panjang menyesuaikan. Jarak antar bedengan selebar 50
cm. Setelah itu berilah pupuk kandang dengan takaran 2 kg/m2 dan campurlah
dengan cara diolah atau dicangkul. Bedengan kemudian diratakan dan dibuat alur
atau garitan dengan kedalaman 1 cm dan jarak antar galur 5-10 cm tergantung jenis
tanamannya. Biji ditabur pada alur/garitan.
d. Pemeliharaan
di persemaian
Setelah benih disebar merata, ditutup dengan media,
tipis saja. Peti kemudian ditutup rapat dengan karung/plastik/kain basah agar
kelembabannya terjaga. Tiga hari kemudian penutupnya dibuka, pada saat ini
biasanya benih sudah mulai tumbuh. pemeliharaan berupa penyirman secara rutin
sampai benih siap tanam. Pada tanaman sayuran umur bibit kurang lebi 3-5 minggu
atau dengan indicator bibit telah memiliki 4-6 daun. Pada musim penghujan sebaiknya
diberi sungkup plastik.
3.1.2
Pengolahan Lahan/Tanah
a. Pembersihan
Lahan
Pembersihan lahan dilakukan dengan membuang
atau mengingkirkan sisa-sisa tanaman atau gulma. Pembersihan lahan dapat
dilakukan secara mekanis atau kimiawi. Pembersihan secara mekanis dilakukan
dengan parang atau alat lain. Sedangkan pembersihan secara kimia dapat
dilakukan dengan menyemprotkan herbisida pada gulma.
b. Pengolahan
Tanah
Pengolahan tanah merupakan upaya mengubah
kondisi lahan dengan menggunakan peralatan, sehingga diperoleh kondisi tanah
yang sesuai bagi tanaman.
Dalam budidaya faktor utama yang perlu diketahui
adalah kondisi lahan (pH tanah), karena pH merupakan factor penunjang
keberhasilan dari usah tani. Tanaman bias tumbuh denagn pH apapun, tetapi
perkembanagnnya sangat dipengaruhi dengan pH (5-7 pH standar bagi tanaman).
Lahan yang kekuranagan pH dinetralkan dengan penambahan kapur dolamit pada
tanah.
Pengolahan
tanah yang dilkukan Pak Asrori masih dengan cara tradisional yaitu masih menggunakan
alat-alat tradisional seperti cangkul dan penggarap tanah (garu). Sebelum
penggarapan dilakukan terlebih dahulu disebarkan pupuk kandang di atas tanah
agar pada waktu pengolahan, tanah tercampur dengan pupuk tersebut yang akan
memperbaiki struktur tanah dan menambah ketersedian unsure hara di dalam tanah.
Pengolahan tanah memberikan manfaat bagi tanaman yang
terdiri :
·
Memperbaiki
struktur atau kegemburan tanah
·
Memperbaiki
komposisi udara, air dan padatan tanah
·
Memperbaiki
aktivitas organisme tanah
·
Mengendalikan
pertumbuhan gulma
·
Mematikan
hama dan penyakit yang bersumber dari tanah.
c. Pencangkulan
dan Penggamburan Tanah
Pengolahan tanah seluruh permukaan dilakukan dengan
cara :
·
Tanah
dicangkul atau dibajak pada seluruh permukaan tanah sedalam ± 20 -30 cm
·
Tanah
olahan dikeringkan selama 1 minggu.
·
Tanah
diolah kembali dengan membuang sisa-sisa akar gulma dan tanah digemburkan.
·
Selanjutnya tanah dibuat bedengan dengan
panjang 110 cm dan tinggi 30-35 cm.
Jika tergenang air, bedengan dapat dibuat lebih tinggi
d.
Pembuatan Petak Tanam Dan Pemberian
Pupuk Dasar
Pembuatan petak dilakukan dengan :
·
Tentukan jarak tanam,
kemudian buatlah petak-petak tanaman.
·
Pada bagian pinggir
sepanjang baris dilakukan pengemburan tanah.
·
Pada barisan ditambahkan pupuk kandang,
kemudian dicampur merata
·
Selanjutnya tanah campuran didiamkan selama 1
minggu
3.1.3
Penanaman
a.
Pembuatan
Ajir
Pengajiran
sangat penting dilakukan dalam pembukaan lahan, tujuan atau fungsi pengajiran
ini yakni untuk mendapatkan tanaman yang rapi, barisan yang rapi lurus. Baik
pada lahan datar atau pun miring. Inilah cara yang dilakukan agar memudahkan
penanaman dalam area yang miring dan tidak rata. Dengan adanya ajir,maka
tanaman akan dibuat lurus dengan 1 titik Ajir Induk.Mempermudah kita dalam
merawat tanaman, mengatur cahaya yang masuk apakah sudah cukup/atau akan saling
terlindungi karena daun atau tajuk tanaman sudah bertemu .
b.
Penentuan
Jarak Tanam
Pengaturan jarak tanam untuk tanaman sangat diperlukan agar setiap
individu tanaman dapat memanfaatkan semua faktor lingkungan tumbuhnya dengan
optimal, sehingga didapatkan tanaman yang tumbuh dengan subur dan seragam yang akhirnya produksi
dapat dicapai secara optimal. Jarak tanam mempengaruhi populasi tanaman,
efisiensi penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit
dan kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan unsur hara.
Berbagai
pola pengaturan jarak
tanam telah dilakukan
guna mendapatkan produksi
yang optimal. Penggunaan
jarak tanam pada
tanaman sayuran dipandang perlu,
karena untuk mendapatkan pertumbuhan
tanaman yang seragam,
distribusi unsur hara
yang merata, efektivitas penggunaan
lahan, memudahkan pemeliharaan,
menekan pada perkembangan hama
dan penyakit juga
untuk mengetahui berapa
banyak benih yang diperlukan pada saat penanaman.
Penggunaan jarak tanam
yang terlalu rapat
antara daun sesama
tanaman saling menutupi akibatnya
pertumbuhan tanaman akan tinggi
memanjang karena bersaing dalammendapatkan cahaya sehingga akan menghambat
proses fotosentesis dan produksi tanaman tidak optimal.
c.
Penentuan
Lobang Tanam
Manajemen lubang tanam dimulai dengan memodifikasi
ruang tumbuh akar pada awal pertumbuhan tanaman dengan menyediakan ruang tumbuh
yang ideal, khususnya bagi pertumbuhan akar. Bibit yang ditanam umumnya adalah
bibit yang berukuran kecil, kurang dari 1,5 meter bahkan ukurannya bisa lebih
kecil lagi, hanya 0,5 meter. Pembuatan lubang pada media tanam biasanya 5-10
cm.
d.
Cara/
Teknik Penanaman
Penanaman komoditas sayuran dapat dibedakan
menjadi tiga yaitu lahan beririgasi, lahan sawah dan lahan kering. Penanaman
sayuran umumnya pada musim marengan dan musim kemarau. Namun jika penanaman
mengikuti pola ini, maka akan terjadi produksi yang melimpah, harga jatuh.
Disarankan untuk dilakukan penanaman pada musim penghujan untuk memperoleh
harga yang tinggi. Penanaman dapat dilakukan jika bibit umur 2-3 minggu setelah
semai atau telah berdaun 3-4 helai, dipindahkan pada lubang tanam yang telah
disediakan dengan jarak tanam tertentu.
Pemindahan bibit dan penanaman
dilakukan dengan tepat cara, tepat sarana dan tepat waktu. Pemindahan bibit dan
penanaman dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh optimal dan juga agar perawatan
dan pemeliharaan tanaman bisa lebih mudah. Hal ini juga dimaksudkan agar
kompetisi antar tanaman bisa ditekan dengan cara penempatan jarak tanam yang
sesuai.
e.
Pemupukan
awal
Untuk budidaya sayuran organik, siapkan pupuk dasar
dari jenis pupuk organik,
bisa menggunakan pupuk kandang yang telah matang atau pupuk kompos. Pupuk
kandang lebih praktis karena tidak perlu menyiapkannya secara intensif, cukup
mendiamkannya hingga kering sebelum digunakan. Sementara penyiapan
pupuk kompos relatif lebih lama.
Pemberian pupuk awal pada tanaman yaitu
Tebarkan pupuk tersebut di atas bedengan, kira-kira 20 kg per
meter. Kemudian diamkan selama 2-3 hari.
f.
Penyiraman
Sehari setelah penanaman bibit, biasanya akan
terdapat beberapa bibit yang layu sementara. Indikasi yang terlihat bukanlah
hal yang dapat membahayakan tanaman asalkan bibit yang telah ditanam harus
selalu di siram. Penyiraman harus dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyiraman
tanaman pada tahap ini tidak perlu banyak, hal ini dilakukan ungtuk menghindari
adanay kemungkinan pembusukan akar yang diakibatkan karena permukaan tanah yang
lembab. Penyiraman dapat dilakukan 5-6 hari berturut-turut.
3.1.4
Pemeliharaan tanaman
a.
Penyiraman / pembumbunan
Penyiangan dilakukan dengan
menggunakan cara manual pencabutan langsung terhadap gulma dan bisa juga
menggunakan parang pendek. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan gulma yang
mengganggu tanaman. Gulma yang terdapat pada bedengan tanaman bisa mengganggu
pertumbuhan tanaman budidaya karena
gulma bisa menjadi kompetitor yang kuat bagi tanaman budidaya.
Pembumbunan dilakukan dengan cara
sedikit menimbun bagian yang tertutupi tajuk tanaman. Hal ini dimaksudkan agar
kekuatan akar menjadi lebih kuat dan pengikatan unsur hara oleh akar menjadi
lebih baik. Pembumbunan biasa dilakukan pada tanaman berbatang agak keras
seperti cabai.
b. pemupukan
Pupuk susulan
kedua menggunakan
pupuk organic, baik cair maupun tidak. Pemupukan cukup dilakukan dua kali
selama penanaman yaitu pemupukan dasar menggunakan pupuk organic dan pemupukan
lanjutan menggunakan pupuk oraganik mauoun kimia dalam standar tertentu, bila
di perlukan tergantng dari kondisi tanaman itu sendiri. . pupuk organic diberikan pada saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Organic yang sama diulangi kembali pada saat tanaman berumur 25 hari setelah tanam. Pemupukan dimaksudkan agar
ketersedian unsure hara bagi tanaman tercukupi .
c.
Penempatan Pupuk
Cara pemberian pupuk pada tanaman
disesuaikan dengan bentuk pupuk dan jenis tanaman yang dipupuk. Pemberian pupuk
agar bermanfaat bagi tanaman harus mempertimbangkan waktu dan cara
pemberiannya. Penggunaan pupuk diharapkan mampu meningkatkan produksi secara
optimal. Pemilihan cara pemupukan yang baik sangat tergantung pada jenis tanah,
kadar lengas, daya fiksasi tanah terhadap hara, pengolahan, jenis tanaman, sistem
perakaran, kemampuan tanaman menyerap hara dan macam pupuk yang diberikan. Ada
beberapa cara pemupukan yang dilakukan pada pak Asrori yaitu :
·
Cara disebar (broadcast), menunjuk pada penebaran terserap
dari bahan secara merata pada permukaan tanah: biasanya dilakukan sebelum
tanaman ditanamkan.
·
Pemberian pupuk cair,
Pupuk
organic cair adalah laruran dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal
dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsure haranya
lebih dari satu unsure. Kelebihan dari pupuk organic ini adalah dapat secara
cepat mengatasi defesiensi hara, tidak masalah dalam pencucian hara, dan mampu
menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk
organic cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan
sesering mungkin. Pemeberian pupuk cair dilakukan sekali seminggu.
d.
Penyiraman
Penyiraman dilakukan sesuai dengan
kebutuhan tanaman dan banyaknya curah hujan yang turun. Yang terpenting perlu
dijaga adalah tanaman jangan sampai layu karena kekurangan air, karena hal ini
akan berakibat fatal bagi hasilnya. Cara penyiramannya juga disesuaikan dengan
jenis, umur,dan sifat tanaman tersebut.
·
Kebutuhan air tanaman
Kebutuhan air tanaman disesuaikan dengan
jenis tanaman, umur umur tanaman ( biasanya tanaman yang baru ditanam sedikit
membutuhkan air), musim, apa bila musim kemarau di siram 2 kali sehari yaitu
pagi dan sore hari dan apabila musim
hujan disiram ketika tanah kelihatan kering.
·
Pengelolaan air
Dalam hubungan
dengan produksi tanaman, air harus dikelola secara baik dan ekonomi. Ini
menyangkut 1) irigasi, yaitu penambahan suplemen air, 2) drainase, yaitu
pembuangan kelebihan air dan 3) konservasi, yaitu perlindungan sumber-sumber
air.
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Salah satu
penyakit yang menyerang sayuran petani Paal Merah adalah Virus Kuning .
Pembasmian Hama dan Penyakit dilakukan
dengan menggunakan pestisida hayati.
Interval menggunakan pestisida hayati bisa dilakukan seminggu 2 kali.
Hal ini karena sifat pestisida hayati hanya mengusir hama bukan membunuh hama. Pestisida
Organik berbasis pada keseimbangan ekosistem. Konsekuensinya semua organisme
yang ada (termasuk hama) dipandang ikut berperan dalam proses keseimbangan
tersebut. Dengan kata lain, tidak ada mahluk hidup yang tidak berguna. Yang
diperlukan adalah mengendalikan hama/penyakit supaya tidak berada dalam jumlah
berlebihan.
Penggunaan pestisida
alami diperlukan sejauh kita tahu bahwa di lahan PO sedang terjadi ketidak
seimbangan, yang terlihat pada munculnya gangguan hama/penyakit. Kadar
pemakaiannya juga tergantung dari tingkat gangguan yang ada. Akan tetapi
penggunaan pestisida kimia juga tidak dapat dielakan karena keadaan-keadaan
tertentu, tetapi penggunaan pestisida kimia harus sesuai dengan ketetapan yang
telah ada atau tidak berlebihan..
f.
Pemangkasan
Pada tanaman
sayur pemangkasan jarang dilakukan. Pemangkasan pada sayurbiasanya pada daun
yang terkena penyakit. Tanaman yang
biasa dipangkas berupa pohon. Tanaman yang berupa perdu atau pohon umumnya
perlu pemangkasan. Pemangkasan ini dimaksudkan antara lain untuk membentuk
pohon, mengurangi daun, mempercepat pembuahan, meremajakan tanaman, dan
lain-lain. Secara umum pemangkasan dilakukan dengan memotong cabang/ranting
yang tumbuhnya tidak tepat, memotong tunas-tunas air, atau memotong
ranting-ranting yang kena penyakit.
3.1.5
Upaya
peningkatan produksi Tanaman
a.
Pola Tanam
Menetapkan pola tanam bertujuan untuk menyesuaikan waktu tanam dengan musim
pada suatu sistem budidaya tanaman. Misalnya sistem budidaya tanaman di lahan
kering, tadah hujan, pola tanam disesuaikan dengan pola curah hujan, sehingga
diperoleh waktu tanam yang tepat. Waktu tanam yang tepat dapat mendukung
pertumbuhan tanaman untuk mencapai hasil maksimal.
Pola tanam yang digunakan Gapoktan Sayur Paal merah adalah Monokultur
tanaman sayur bayam, sawi, kangkung, kacang panjang dan pola tanam tumpang sari cabe dengan denagn selada.
Keuntungan pola tanam, dapat diperoleh dengan menggunakan
pola tanam yang tepat, keuntungan tersebut antara lain dapat meningkatkan
efisiensi penggunaan sumber daya yang ada. Intensitas penggunaan lahan
meningkat, dengan memanfaatkan sumber daya lahan dan waktu lebih efisien,
meningkatkan pula produktivitas lahan.
b. Intensifikasi
Intensifikasi adalah usaha peningkatan produksi per
satuan luas tertentu. Peningkatan produksi hanya dapat dicapai apabila
diterapkan teknologi yang telah diuji keuntungannya. Untuk menginovasi
teknologi ke tingkat petani dan petani bersedia menggunakannya, bukanlah suatu
pekerjaan yang ringan, banyak faktor yang menjadi penghambat, misalnya
pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain. Dalam usaha mensukseskan intensifikasi perlu di tata
suatu pola intensifikasi.
Tujuan dilaksanakan intensifikasi pertanian adalah untuk
meningkat produktifitas lahan usaha tani, meningkatkan pendapatan petani dan
meningkatkan kesempatan kerja. Pelaksanaan intensifkasi dilakukan melalui tiga
pendekatan yaitu pendekatan komoditas, pendekatan wilayah, dan pendekatan
usahatani.
c.
Diversifikasi
Diversivikasi adalah
usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari
ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Diversifikasi pertanian ini dapat menghindarkan petani
dari kemungkinan kelebihan produksi bila hanya bertanam secara monokultur.
Kelebihan produksi dapat mengakibatkan masalah dalam pasca panen dan pemasaran
yang akhirnya akan menurunkan harga jual komoditas tersebut. Keragaman tanaman
yang dibudidayakan tergantung kepada ekosistem, usahatani, teknologi, dan
pengetahuan petani. Ekosistem
di Indonesia sangat beragam, sehingga usaha budidaya juga beragam.
d.
Ekstensifikasi
Ekstensifikasi adalah kegiatan memperluas lahan usahatani ke daerah
usahatani baru dengan membuka areal potensial terutama di luar pulau Jawa.
Kegiatan ekstensifikasi pada umumnya dikaitkan dengan usaha transmigrasi. Usaha
peningkatan produksi pertanian melalui perluasan areal tanam dapat dilaksanakan
baik di lahan kering maupun di lahan basah. Pembukaan lahan basah misalnya
melalui pencetakan sawah baru, yaitu lahan basah yang secara potensial dapat
dijadikan sawah (lahan pasang surut dan lahan lebak).
Di kebun sayur paal merah
telah diterapkan intensifikasi penggunaan mesin seperti Alsintan, diversifikasi
yang ditandai dengan tumpang sari antara tanaman cabe dan selada serta ekstensifikasi telah diterapkan yang di
tandai dengan pembukaan lahan baru di lahan kosong sebelah lahan yang telah
ditanamani sayuran.
3.1.6
Panen
dan Pasca Panen
a.
Panen
Penentuan saat panen yang tepat
merupakan langkah awal dari upaya memperoleh kualitas hasil sayuran yang
optimal. Waktu panen sayuran dapat ditentukan tidak hanya dengan melihat
keadaan fisik tanaman namun juga dengan mempertimbangkan harga dan jarak dari
kebun ke pasar yang dituju, misalnya untuk pasar yang dekat tomat dipanen pada
saat matang ditandai dengan buahnya yang berwarna merah, namun untuk pasar yang
jauh, tomat bisa dipanen ketika buahnya masak hijau
Panen
sayuran sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari untuk mengurangi susut bobot
akibat transpirasi yang diakibatkan panas sinar matahari. Setelah pemanenan
dilakukan ‘curing’, yaitu menyimpan sayuran di tempat teduh untuk beberapa saat
agar kalor akibat panas mataha[ri saat di lapang hilang. Biasanya petani di paal merah memanen sayur
pada sore hari , karena malam hari dilakuakn transaksi dengan pengepul dan
paginya sayuran tersebut siap dipasarkan.
Dalam hal
mempercepat hasil panen sayuran yang perlu dilakukan adalah meningkatkan
budidaya sayuran mulai dari pra pengolahan lahan hingga panen. Panen sayuran
dapat dilakukan secara manual dengan tangan yaitu dengan cara dipetik atau
dengan bantuan alat misalnya pisau yang tajam. Pemanenan harus dilakukan dengan
hati-hati untuk mencegah kerusakan yang menyebabkan sayuran cepat busuk. Wadah
penampung hasil panen harus bersih dan tidak memiliki bagian yang tajam/runcing
yang bisa melukai produk hasil panen sayuran.
Dengan kondisi
sayuran yang di panen kita dapat memperkirakan hasil panen apakah meningkat
ataupun menurun. Petani yang baik selalu mencatat semua hal yang
terkait dengan usahataninya, terutama dalam kaitannya dengan semua kebutuhan
input. Prakiraan hasil panen untuk tanaman sayur-sayuran dan beberapa tanaman
buah-buah tidak banyak bermanfaat karena pada jenis tanaman ini harga jual
lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas hasil panen dari pada kuantitasnya.
Kehilangan hasil
di lapang dapat terjadi sebelum panen, sebagai akibat dari serangan hama dan
penyakit, cuaca yang tdak menguntungkan atau karena saat panen yang terlambat.
Sebagal contoh, karena keterlambatan panen kehilangan hasil banyak terjadi
sebagai akibat terbawa angin atau jatuh ke tanah karena polong sudah pecah
sebelum dipanen.
Besarnya
kehilangan hasil pada saat panen bervariasi tergantung kepada jenis tanaman,
kondisi lahan dan cara panen. Kehilangan panen pada tanaman ubi-ubian pada
umumnya lebih besar dari pada tanaman biji-bijian
Kendala
yang dialami gapoktan sayur Paal merah adalah musim hujan dan kemarau. Curah
hujan yang terlalu deras dapat mengakibatkan lahan tergenang air yang
mengakibatkan tanaman akan mati. Sedangkan kemarau yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan tanah menjadi kering dan tanaman sayur mengalami kekerdilan.
b.
Pasca
panen
Setelah panen, sayuran memerlukan
penanganan pasca panen yang bertujuan:
·
mempertahankan mutu
produk sayuran agar tetap prima sampai ke tangan konsumen,
·
menekan kehilangan
hasil karena kerusakan dan penyusutan,
·
memperpanjang daya
simpan dan meningkatkan nilai ekonomis sayuran.
Guna mencapai tujuan tersebut,
penanganan pasca panen sayuran mengacu pada pedoman cara penanganan pasca panen
yang baik.
Sayuran, seperti produk hortikultura lainnya,
merupakan produk pertanian yang mudah busuk sehingga penanganannya mulai dari saat
panen harus hati-hati agar kualitasnya dapat terjaga sampai ke tangan konsumen
dan memperoleh harga jual yang tinggi. Bila telah dipanen, tidak ada perlakuan
yang dapat meningkatkan kualitas hasil sayuran, yang dapat dilakukan adalah
mempertahankan kualitas tersebut.
3.2 Budidaya Sayur Paal Merah Kota Jambi
Beberapa jenis
sayur yang dibudidayakan pada oleh Gapoktan Sayur Paal Merah kota jambi yaitu:
1.
Selada
a. Benih
& Seleksi Benih :
dilakukan
dengan cara menyiapka air hangat secukupnya dan memasukkan benih
kedalamnya.Benih yang tenggelam merupakan benih yang baik, yang terapung
silahkan dibuang.
b. Seleksi
bibit :
Bibit yang diambil adalah benih yang besar.
Dan penyortiran bibit dilakukan 2-3 kali
c. Pengolahan
lahan
lahan
diolah terlebih dahulu dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur.
selanjutnya dibuat bedengan dengan
lebar 110 cm, tinggi 30-35 cm dan panjang bedenagn sesuai
keadaan lahan serta jarak antar bedeng
30 cm.
d. Persemaian
Benih
disebar merata pada bedengan persemaian dengan media berupa campuran tanah
dengan pupuk organik (1:1), kemudian ditutup jerami kering selama 2-3 hari.
Sebaiknya bedengan persemaian diberi naungan/atap
e. Penanaman
Setelah
berumur 3-4 minggu atau memiliki 4-5
helai daun tanaman dapat dipindahkan ke bedengan yang sudah dipersiapkan dengan
jarak tanam 20 x 20 cm, tergantung varietas semakin tinggi varietas yang
ditanam semakin lebar jarak tanamnya.
f. Pemupukan
Tiga
hari sebelum tanam diberikan pupuk organik
dengan dosis 2-4 kg/m
Dua
minggu setelah tanam lakukan pemupukan susulan yaitu pupuk kandang dan pupuk
Urea 150 kg/ha (15 gr/m2) supaya pemberian pupuk lebih merata maka
pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping
barisan tanaman. Selanjutnya dapat ditambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2)
pada umur 10 dan 20 hari setelah tanam.
g. Pemeliharaan
Penyiraman
dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore sampai tumbuhan tumbuh normal,
kemudian di ulang sesuai kebutuhan. Bila tanaman mati segera di sulam.
Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 10 hari.
h. Pengendalian
HPT
Hama
yang sering ditemui adalah ulat daun, belalang, dannyamuk kecil bila keadaan
lembab. Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanik yaitu dipungut dengan tangan, jika terpaksa gunakan
pestisida yang aman mudah terurai, penyemprotan dilakukan 2x seminggu.
i.
Panen
Selada
dapat dipanen setelah berumur 2 bulan setelah semai, dengan cara mencabut
batang tanaman atau memotong pangkal batang.
Pemanenan
dialkukan pad sore hari. Sayuran cepat layu sehingga untuk menjaga kualitasnya
agar kelihatan tetap segar dan kualitasnya baik,segera setelah panen lakukan
dengan merendam bagian akar tanaman dalam air dan pengiriman produk ketempat
tujuan secepatnya.
2.
Sawi
hijau, sawi pakcoy dan kemangi
a. Benih
& Seleksi Benih :
Kebutuhan
benih 650 gr/ha, seleksi dilakukan dengan cara merendam benih pada air hangat
dan membuang benih yang terapung. Sedangkan benih yang tenggelang digunakan
untuk bibit.
b. Seleksi
bibit :
Bibit yang diambil adalah benih yang besar.
Dan penyortiran bibit dilakukan 2-3 kali
c. Pengolahan
lahan :
lahan
diolah terlebih dahulu dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur.
selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar
110 cm, tinggi 30-35 cm dan dan panjang
bedengan sesuai dengan keadaan lahan serta jarak antar bedeng 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan
pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite 2-4 minggu sebelum tanam dengan
dosis1,5 t/ha.
d. Persemaian
:
Untuk
pakcoy Siapkan tempat persemaian, berupa bedengan dengan media semai setebal ±
7 cm.
Benih
disebar merata pada bedengan persemaian dengan media berupa campuran tanah
dengan pupuk organik kemudian ditutup alang-alang atau jerami kering selama 2-3 hari. Sebaiknya
bedengan persemaian diberi naungan/atap
e. Pemupukan
Tiga hari sebelum tanam diberikan pupuk
organik ,Dua minggu setelah tanam lakukan pemupukan susulan yaitu pupuk kandang
dan pupuk ,Selanjutnya dapat ditambahkan pupuk cair pada umur 10 dan 20 hari
setelah tanam.
f. Penanaman
·
Untuk sawi hijau,
Setelah berumur 3-4 minggu atau memiliki
4-5 helai daun, dipindahkan ke lubang tanam
bedengan yang sudah disediakan dengan jarak tanam 20 x 20 cm atau sistem
baris dengan jarak 15x10 cm. Jika ada yang tidak tumbuh lakukan penyulaman,
yaitu tindakan penggantian tanaman dengan tanaman baru
·
Untuk sawi pakcoy Bibit
yang telah berumur ± 21 hari atau telah berdaun 3-4 helai, dipindahkan
kebedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 30 x 30 cm atau 30 x 25 cm.
g. Pemeliharaan
Penyiraman
dilakukan setiap hari yaitu pagi dan sore sampai tumbuhan tumbuh normal,
kemudian di ulang sesuai kebutuhan.
Dan
penyiangan gulma setelah 1 atau 2 minggu tanam, penyiangan gulma dilakukan secara manual , yaitu
pencabutan dengan tanagn dan memakai parang.
h. Pengendalian
HPT :
Untuk
mencegah serangan hama dan penyakit tanaman, yang perlu diperhatikan adalah
sanitasi lahan dan draenase, Hama yang sering ditemui adalah ulat daun,
belalang, bila keadaan lembab. Pengendalian hama dapat dilakukan secara mekanik
yaitu dipungut dengan tangan, dan
menggunakan pestisida yang aman mudah terurai, penyemprotan dilakukan 2x
seminggu.
i.
Panen :
·
Sawi hijau ini di panen setelah umur tanaman 40-60 hari
dari biji atau 25-30 hari setelah tanam dari bibit.
·
Pakchoy dipanen pada
umur + 45 setelah tanam . Pakchoi jenis kecil produksinya mencapai 10-20 t/ha
dan (tergantung varietas) pakchoi jenis besar 20-30 t/ha. Sayuran ini tidak
tahan
3.
Bayam,
bayam putih, bayam kampung/hujan
a. Benih
& Seleksi Benih
bayam
dikembangkan melalui biji. Biji bayam yang dijadikan benih harus cukup tua (+ 3
bulan). Benih yang muda, daya simpannya tidak lama dan tingkat perkecambahannya
rendah..
b. Pengolahan
lahan
Lahan
terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30
cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke
Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya lebar 110
cm, tinggi 30-35 dan panjang sesuai
dengan kondisi lahan . Jarak antar bedengan 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah)
lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit untuk menaikkan derajat
keasaman tanah dosis 1,5 t/ha, pengapuranmdilakukan sebelum penanaman, yaitu
2-4 minggu sebelum tanam.
c. Pengolahan
lahan
Lahan
dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur. Selanjutnya buat bedengan dengan arah
membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan
sebaiknya panjang 110 cm dan tinggi 30-35. Jarak antar bedengan 30 cm.
d. Pemupukan
Setelah bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam
berikan pupuk dasar kotoran ayam yang telah difermentasi. Sebagai starter
tambahkan Urea diaduk dengan air dan disiramkan kepada tanaman pada sore hari
10 hari setelah penaburan benih, jika perlu berikan pupuk cair pada umur 2 minggu setelah penaburan benih.
e. Penanaman/penaburan
benih :
Dapat
dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
·
Benih ditebar langsung
di atas bedengan, yaitu biji dicampur dengan pasir/pupuk organik yang telah
dihancurkan dan ditebar secara merata di atas bedengan.
·
Benih dapat juga
ditebar pada larikan/barisan dengan jarak 10-15 cm, kemudian ditutup dengan
lapisan tanah.
f. Pemeliharaan :
Bayam
cabut adalah jenis bayam yang jarang terserang penyakit (yang ditularkan
melalui tanah). Bayam dapat berproduksi dengan baik asalkan kesuburan tanahnya
selalu dipertahankan, untuk Penyiraman dilakukan setiap hari yaitu pagi dan
sore sampai tumbuhan tumbuh normal, kemudian di ulang sesuai kebutuhan.
g. Pengendalian
HPT :
·
Hama yang sering
ditemui adalah virus kuning yang dapat dicegah dengan pestisida organic yaitu
camburan urin kambing dan rempah-rempah seperti lengkuas, kunyit, lengkuas.
·
Untuk bayam putih
Penyemprotan dilakukan dengan
menggunakan pestisida yang aman mudah terurai, penyemprotan dilakukan 2x
seminggu.
h. Panen
Pemanenan
Bayam dapat dilakukan dengan cara dicabut, dipetik dan bahkan ada bayam yang bias
dicabut dan dipetik.
·
Bayam cabut biasanya
dipanen apabila tinggi tanaman kirakira 20 cm, yaitu pada umur 3 sampai 4
minggu setelah tanam. Tanaman ini dapat dicabut dengan akarnya ataupun dipotong
pangkalnya.
·
Sedangkan bayam petik
biasanya mulai dapat dipanen pada umur 1 sampai dengan 1,5 bulan dengan
interval pemetikan seminggu sekali.
4.
Kangkung
Darat
a. Benih
& Seleksi Benih
Kangkung
darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih
sekitar 10 kg.
b. Pemupukan
Pupuk yang diberikan Pupuk organik
(sebaiknya kotoran ayam yang telah difermentasi) diberikan tiga hari sebelum
tanam dan ditambahkan pupuk anorganik
berupa Urea pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata,
pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan
disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 2-3 minggu setelah
tanam
c. Penanaman
Biji kangkung darat ditanam di bedengan
yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang
tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau
system garitan (baris).
d. Pemeliharaan
Pemeliharaan
yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus
dilakukan penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih
muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.
e. Pengendalian
HPT
Hama
yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat, kutu daun
Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh
Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang
aman mudah terurai seperti yang penyemprotannya 2 kali seminggu.
f. Panen
& pasca panen
Panen
dilakukan setelah berumur ± 25 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman
sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas
permukaan tanah. Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran
kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat
yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk
ketempat tujuan secepatnya..
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan di atas
adalah :
1. Usaha Budidaya Tanaman adalah
serangkaian kegiatan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam nabati
melalui upaya manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumber daya lainnya
menghasilkan barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik.
2. Pertanian
organic adalah pertanian yang bebas dari bahan – bahan kimia. Mulai dari
perlakuan untuk mendapatkan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama dan
penyakit sampai perlakuan pascapanen tidak sedikiti pun melibatkan zat kimia,
semua harus bahan hayati, alami.
3. jenis komiditi yang di budidayakan di Gapoktan Sayu Paal Merah Kota
jambi antara lain , Kangkung, Bayam Putih, Bayam
Kampung/hijau, seledri, kemangi Sawi hijau , Sawi Pakcoy, cabe dan Selada. Adapun teknik budidaya yang
dilakukan adalah teknik budidaya pertanian oraganik yang meliputi, Pra
Pengolahan lahan, Pengolahan Lahan atau Tanah, Penanaman, Pemiliharaan Tanaman
, Upaya Peningkatan Produksi Tanaman , Panen dan Pasca panen.
4.2
Saran
Sebaiknya dalam praktikum lapang yang berlangsung saling menjaga ketenangan dan
keseriusan sehingga praktikum lapang dapat berjalan lancar dan mahasiswa dapat memperoleh informasi
dengan jelas sebagaimana mestinya. dan dalam budidaya sayuran sebaiknya
dilakukan dengan teknik budidaya
organic sehingga dapat menghasilkan
sayuran organic yang baik bagi kesehatan.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar